Secret & Love [TEENLIT] Prolog

tumblr_mi34i6N6Df1qfc752o1_500

Prolog

“Kak, apa kabar?”, ucap seseorang bertopi sembari mengusap batu nisan.

Dari dua bola matanya, ada berkas bening-bening kaca. Dia menangis. Dion Purnama Putra terukir jelas pada batu nisan yang masih baru itu. Tanahnya sudah tidak basah. Bunga-bunga kamboja masih merah merekah menghiasi tanah makam. Sudah dua tahun berlalu, cowok yang terbaring tanpa suara itu meninggalkan dirinya.

“Kak, malam ini aku akan mengikuti kompetisi Berbakat Musik itu. Aku akan membawa piala kemenangan untukmu”,katanya tersedu-sedu. “Terima kasih banyak Kak, kamu sudah mengajarkanku”, katanya sembari meninggalkan batu nisan itu.

Pemuda bertopi itu melangkah pergi meninggalkan pemakaman yang sunyi. Perlahan, kendaraan roda duanya bergerak dan menuju pada sebuah gedung megah. Suara hiruk pikuk terdengar seisi ruangan. Orang-orang bak ikan-ikan sarden dalam kaleng. Duduk rapi dan seperti menantikan sesuatu.

“Peserta selanjutnya, seorang cowok yang akan menampilkan kepandaiannya dalam bermain drum. Langsung saja kita panggil, Dion”, panggil pembawa acara mempersilahkan.

Pemuda itu segera maju ke atas panggung. Dia berdiri pada sebuah alat musik besar yang hampir menutupi tubuh kecilnya. Drum. Kemudian, dia duduk di sebuah kursi kecil di dekat drum dan menunjukkan kepandaian. Semua mata terpaku. Para penonton terpesona dengan permainan drum yang begitu indah. Sangat menakjubkan! Dia mampu memainkan berbagai genre indah. Jazz, Pop, dan Rock menyatu melalui stick drum yang di pegangnya.

TUK! Pukulan terakhir berhenti. Hening. Suasana sepi. Tak ada yang bersuara bahkan tidak ada yang mengedipkan mata. Tidak beberapa lama, PUK… PUK… PUK… Suara tepuk tangan mengelegar. Suara  itu memecahkan keheningan sesaat. Pemuda itu berdiri, membungkukkan badan, dan tersenyum kepada penonton.

***


“Selamat, ya!”, ucap selamat itu terus bertubi-tubi datang kepada Dion.

Sekarang, sebuah piala kemenangan berada sangat dekat kepadanya. Dia memeluknya dengan sangat erat. Bahkan sekali-kali dia mencium benda berwarna keemasan itu. Piala ini sangat penting baginya. Dia akan memberikan kepada orang yang telah mengajarkan tentang drum kepadanya.

“Hei!”, sapa seseorang. “Selamat ya atas kemenanganmu sebagai drumer terbaik!”, katanya lagi. Dia memandang Dion takjub, dari ujung kaki dan kepala. Bukan hanya dia terkesima, tiga cowok di dekatnya juga melongo melihat sosok yang ada di hadapannya.

Dion mengangguk mengiyakan, membalas sapaan itu. Dia merasa senang dan bangga dengan keahliannya. Dia sudah berjuang dengan sangat keras. Tidak di hiraukan jemari-jemarinya menjadi merah dan bengkak hanya untuk memukul alat band paling besar. Sungguh sakit dan nyeri rasanya.  Namun cidera itu bukan apa-apa. Kebahagiaan yang di rasakan tidak ternilai oleh apapun.

“Kamu hebat banget main drumnya, mau gabung bareng band kita?”, tambah seorang laki-laki lagi.

“Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti?”, ucap Dion menggeleng kepalanya tidak mengerti.

“Baiklah, aku akan jelaskan. Sebelum itu, perkenalkan. Aku Rian, ketua band ini dan bermain keyboard. Di samping kiri aku, Andre, dia gitaris band kami, dan dua cowok di samping kanan aku, Rio dan Bian, dia adalah bassis dan Vokalis. Dan nama band kami adalah SCORPIO”, jelas lelaki berambut sedikit botak yang bernama Rian itu.

“Terus, apa hubungannya denganku?”,

“Kami membutuhkan seorang drumer. Dan kami merasa bahwa kamu sangat cocok menjadi drumer band kami”, jelasnya. “Apakah kamu mau bergabung?”, tanya Rian dengan mengebu-gebu.

“TIDAK!”, ucap Dion tegas.

Dion segera melangkah pergi. Dia tahu, ucapannya itu terlalu ketus. Bahkan terlalu jutek. Tapi, dia harus melakukannya. Ya, dia sudah berjanji di dalam hati. Dia tidak akan lagi bermain drum. Terlalu banyak kekacauan seandainya dia tetap meneruskan hobi kesayangnya ini. STOP! Pemain drum pada kompetisi itu adalah yang terakhir untuknya. Dia hanya bermain drum untuk orang itu, tidak lebih.

“Tunggu, kenapa kamu menolak ajakan kami? Apakah kamu sudah mempunya band sendiri?”, ucap cowok bernama Andre itu mengernyit heran.

“Bukan urusan kamu. Aku tetap tidak mau bergabung dengan band kalian. TITIK!”, kata Dion dengan nada marah.

Dion melangkah pergi. Good mood yang tadi menggelora berubah menjadi bad mood yang sangat dalam. Dia berlari dengan sekuat tenaga. Nafasnya terenggah-enggah. Berharap para cowok itu tidak mengejarnya dan memaksa untuk masuk ke dalam band itu. Sungguh! Dia tidak ingin bermain drum lebih daripada kompetisi ini.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s