Secret & Love [TEENLIT] Bab Satu

tumblr_mi34i6N6Df1qfc752o1_500

Bab Satu

“Oke, teman-teman. Rapat hari ini saya tutup”, ucap Dea mengakhiri rapat osis.

Dea menghela nafas. Sungguh melelahkan! Jabatan sebagai ketua osis membuat dirinya sangat lelah. Dia tidak pernah berpikir sebelumnya, dia akan menduduki kursi goyang yang empuk dengan jabatan siswa tertinggi di sekolah itu.

Dia berdiri. Merenggangkan otot-otok tangan yang kaku. Malam tadi, dia bergadang untuk menyelesaikan laporan pentas seni atau pensi beberapa bulan lagi. Kemudian merapatkan laporan itu kepada pengurus osis yang lain. Dia harus membuatkan acara terakhir itu sebagai acara yang spektakuler. Bukan hanya Indonesai Idol yang harus spektakuler,  namun acara pensi yang penting ini pun harus spektakuler  dan sukses.

“Huaam”, Dea menguap. Sekali-kali dia mengucek-ngucek matanya. Dia berharap rasa mengantuk ini menghilang. “Tari, kamu ada minum?” katanya kepada sahabatnya sekaligus sekretaris osis.

Tari menganggukkan kepala. Perlahan dia mengambil sebotol minuman di dalam tasnya. Dea mengambil minuman itu dan meneguknya. Tari terpaku, dia sudah biasa dengan sahabat tomboy-nya itu. Sudah terbiasa melihat Dea menguap setelah acara rapat osis. Sudah terbiasa melihat Dea bersikap tomboy pada teman-temannya. Sudah biasa melihat gadis berlesung pipi itu berkerja dengan dengan sangat keras.

“Dea, mengapa kamu harus bergadang? Memang kamu nggak punya waktu lagi untuk menyelesai laporan itu siang hari”, tanya Tari sedikit binggung dengan kondisi Dea yang sering mengantuk.

“Bukan begitu Tar, kamu tahu sendirikan kesibukan aku?”,

“Ya, aku tahu. Kamu selalu berlatih bermain drum.  Tapi aku binggung,  mengapa kamu tidak mau menjadi anak band?”,

Dea hanya tersenyum, mengembangkan senyumnya. Dia tidak butuh menjadi anak band. Cukup seperti ini saja. Ketua osis yang selalu mengerjakan tugas dengan baik. Dan cewek tomboy yang selalu di kenal oleh teman dan gurunya. Kemudian dia merangkul Tari ke dalam pelukannya. You are right!, Tari adalah sahabat terbaiknya. Dia dan Tari sudah berteman sejak kecil. Mungkin sejak bayi. Mereka seperti sudah di takdirkan untuk selalu bersama. Dan hanya tari, seorang gadis yang bisa mengerti kondisinya dan menjaga secret-nya. Mungkin bukan secret yang besar, tapi sebuah secret yang membuat orang ternganga.

***


Pulang sekolah. Sebuah tempat sunyi ini merupakan tujuan. Sudah berulang kali, dia mendatangi pemakaman umum itu. Selalu saja menuju sudut makam. Dan pada saat ini pula, Dea menampakkan sisi wanitanya. Dia menangis. Air matanya selalu tumpah bila berhadapan langsung dengan batu nisan itu. Seperti saat ini.

Sudah hampir tiga tahun berlalu. Dion Purnama Putra, kakak laki-laki yang sangat di sayanginya, pergi ke tempat keabadian. Kecelakaan maut yang menyebabkan nyawanya menghilang. Sampai sekarang pun, Dea tidak dapat merupakan darah yang mengalir pada setiap tubuh Dion. Dan bila membayangkan cowok itu, dia selalu merasakan pipinya di elus dengan lembut oleh saudaranya itu untuk menenangkannya. Dia selalu teringat, perihnya hati ketika melihat ibunya pingsan mendengarkan berita itu.

“Kak, kenapa Kakak pergi dengan sangat cepat?”, katanya sembari mengelus-elus batu nisan dengan lembut. “Kakak senang dengan piala ini?”, tanya Dea.

Piala itu. Piala kemenangan kompetisi berbakat setahun lalu terbaring di dekat batu nisan Dion. Itu hadiah indah darinya pada hari ulang tahun Dion yang ke-19. Walaupun Dion sudah tiada, dia tetap ingin menciptakan senyum terindah kepada saudara laki-lakinya itu. Dengan melalui hobi kesayangannya, bermain drum.

***


Dea melangkah dengan sangat pelan. Mencoba menjaga frekuesi jarak langkah agar tidak terdengar oleh Tari. Bukan karena takut kepada gadis itu, tapi sudah ada ide suprise. Bukan hal yang luar biasa sih, hanya keisengan belaka.

“DUAARR!”, kejut Dea.

Tari meloncat, berlari menjauhi dari tempat duduknya. Nafasnyat terengah-engah tidak teratur. Sementara Dea tertawa terbahak-bahak. Reaksi itu. Reaksi unik yang selalu di perlihatkan oleh Tari ketika dia terkejut sangat lucu. Right! Dia seperti tikus yang ketakutan ketika kedatangan manusia. Dan setiap kejadian itu pula, Dea selalu tertawa terbahak-bahak hingga mulut terbuka lebar.

“Dea, apaan sih? Kamu mau buat aku mati terkena serangan jantung”, kata Tari marah.

“Nggak kok, Tar”, kata Dea sembari menahan tawa.

“Huh, awas ya!”, Tari mengancam. Tari mendekati, menyiapkan jemari tangan. Dia akan membalas perbuatan Dea. Dengan mengelitik tubuh gadis itu.

“Ampun, Tar. Aku janji kalau ini yang terakhir”, kata Dea sembari melindungi tubuhnya.

“Beneran, awas kamu bohong?”,

“Aku janji, HAHAHAHA”,

“Udah Dea, jangan tertawa lagi. Nanti aku marah beneran sama kamu”, ancam Tari lagi.

Dea menutup mulut dengan tangannya. Kalau tidak, tidak tahu apa yang terjadi dengan hubungan persahabatan mereka. Namun kejadian tadi benar-benar sangat lucu. Dea sangat menikmatinya. Bisa di katakan, ada sebagian beban yang hilang dari hatinya. Dia merasakan sedikit kelegaan.

Tiba-tiba, seorang cowok dengan kacamata tebal menghampiri mereka. Dea dan Tari terpaku. Ada apa gerangan? Apa ada masalah? Dengan takut. Bukan kepada orangnya, tapi kacamatanya itu lo! Tebal banget.

“Maaf kak Dea. Kakak di panggil Pak Marwan sekarang?”, ucap cowok berkaca mata itu gemetar.

“Ya, terima kasih”, ucap Dea mengeryit heran dengan tingkah cowok itu.

Perlahan, dia melangkah pergi meninggalkan Tari yang masih sedikit marah. Pak Marwan, ada urusan apa dengan Wakil Kepala Sekolah itu? Apakah dia sudah melakukan kesalahan besar? Atau jangan-jangan, guru-guru dan teman-temannya sudah mengetahui secret itu?

***


Tok… tok… tok… !

“Permisi, Pak!”, kata Dea sopan.

“Oh, Dea. Kamu sudah datang!”, kata Pak Marwan menoleh ke arahnya. “Bapak bisa minta tolong”, katanya dengan melirik seorang cowok yang berdiri di hadapannya.

“Minta tolong apa, Pak?”,

“Kamu bisa mengantarkan Andre, siswa baru, untuk melihat-lihat sekolah kita”, ucap Pak Marwan sembari memperkenalkan Dea.

Dea terkejut. Andre. Nama itu. Dan…Wajah itu. Dia teringat dengan kejadian di gedung kompetisi berbakat musik itu. Dan Scorpio. Ah, dia teringat dengan nama band yang mengotot untuk mengajaknya bergabung. Dea mulai takut. Apakah cowok itu akan mengenalnya? Dea menghela nafas. Dia mencoba untuk menenangkan pikirannya. Sekarang, dia adalah seorang cewek, bukan pemuda pada kompetisi itu, dan juga bukan Dion. Aman!

“Jadi, bagaimana Dea. Apakah kamu bisa membantu bapak”, ulang Pak Marwan lagi.

“Bisa Pak”, kata Dea tegas.

“Terima kasih, Dea. Bapak sangat tertolong”, ucap Pak Marwan berterima kasih.

***


“Ini perpustakaan sekolah. Di depan sana, itu ruang UKS. Kemudian… “,

“Sudah, aku bosan. Lebih baik kita berbicara yang lebih penting saja”, kata Andre memberhentikan penjelasan Dea.

“Maksud kamu?”

“Setahun lalu, aku menonton Kompetisi Berbakat Musik. Pada saat itupula, aku bertemu dengan seorang drumer berbakat”.

Dea terkejut. Hatinya berdetak dengan sangat cepat. Apa maksud ucapan Andre itu? Apakah dia tahu? Huh! Dea mencoba bersikap tenang. Dia tidak mau Andre curiga dengan dirinya.

“Terus, apa hubungannya?”, tanya Dea pura-pura tidak mengerti.

“Kamu tidak perlu berpura-pura lagi, Dea. Eh, atau aku panggil Dion aja ya!”, kata Andre sembari tertawa. Dia tersenyum dengan penuh kemenangan.

Secret. Bagaimana ini? Rahasia itu sudah terbongkar. Aduh! Dea tida tahu harus berbuat apa, Andre pasti akan memaksanya lagi untuk bergabung dalam bandnya, Scorpio. Dea menunduk. Dia mencoba mencerna setiap perkata Andre. Tidak mengerti. Dia menggelengkan kepala. Perlahan, mengambil nafas dan menghembuskan pelan-pelan.

“Maksud kamu?”,

“Sudahlah, akhiri aja kebohongan ini. Aku sudah tahu semuanya”,

Dea berpikir. Sudah tahu? Jadi, Andre sudah tahu semua kebenaranya. Dion. Drumer. Malam kompetisi. ARGH! Bagaiman ini? Apa yang harus di lakukan olehnya. Diam saja. Ataukah membiarkan rahasia ini akan di ketahui orang?

“Jadi, kamu mau apa?”,

“Sama seperti dulu. Aku ingin kamu bergabung dengan band kami”,

“TIDAK!”, jawab Dea tegas.

Andre tertawa. Lagi. Kini kata penolakan itu kembali terdengar. Gadis di hadapannya ini sangat keras kepala. Dea masih berdiri teguh pada pendiriannya. Dia sudah tidak mau berurusan dengan cowok itu, segera dia melangkah meninggalkan Andre yang masih tertawa. Menjauh dari cowok yang sudah mengetahui rahasianya itu.

***


Pelajaran Matematika menjadi membosankan. Tidak dapat berkonsentrasi. Dia terus memikirkan pembicaraan singkat dengan Andre. Apa yang harus di lakukannya? Diam saja. Entahlah, dia benar-benar binggung. Hingga pelajaran usaipun, pikiran Dea masih belum bisa tenang. Kerutan pada kepala terbentuk. Dia terlihat seperti Einstein yang kebinggungan.

“Dea, kamu kenapa?”, tanya Tari.

Dea menggelengkan kepala. Untuk saat sekarang, dia tidak ingin menceritakan kepada siapa-siapa termasuk Tari, sahabatnya. Dia ingin menyelesaikan masalah ini sebelum secret itu terbuka terlalu jauh.

“Tar, kamu tahu Andre kelas berapa?”,

“Andre?”, pikir Tari. “Maksud kamu, Andre Steven, si siswa baru yang ganteng itu?”,

“Ganteng?”, kini Dea yang berpikir. “Terserahlah, dia kelas berapa?”, lanjut Dea.

“Setahu aku, dia kelas XI IPS 2, kenapa kamu cari dia?”,

“Nggak kok!”, jawabnya sembari melangkah pergi.

Jam tangannya baru menunjukkan pukul 4 sore. Para siswa-siswi yang lain sudah pulang kecuali Dea dan beberapa anak ekstrakulikuler. Dia segera pergi menuju ke ujung ruangan di sisi sekolah. Ruang osis. Kemudian duduk pada kursi singasana. Memandang langit sore yang sangat indah. Dia mencoba untuk menenangkan hati yang sedang kebinggungan. Galau. Bahkan tidak tahu arah.

“Kok, kamu melamun”,

Dea terkejut, dan menoleh kea rah sumber suara. Andre. Ada apa gerangan? Mengapa dia datang ke ruang osis. Pasti, Dea mulai mengetahui maksud kedatangannya. Dia pasti ingin mengajak Dea bergabung ke dalam bandnya. Dan jawabannya sudah pasti, TIDAK.

“Ruangan ini tidak boleh di masuki oleh orang selain pengurus osis”, kata Dea  mengusirnya.

“Siapa yang buat peraturan itu? Sekolah? Nggak kan?, jadi siapa saja boleh masuk ke ruangan ini”,

Dea diam. Right! Ruangan ini boleh di masuki siapa saja. Pengurus maupun bukan pengurus osis. Namun tidak untuk Andre. Dea melarangnya. Siswa baru itu di anggapnya sebagai musuh besar yang harus di hindari. HARUS! .

“Mau apa kamu ke sini? Kalau kamu mau mengajak aku untuk gabung ke dalam band kamu, maka… aku menolak”, ucap Dea ketus.

Andre tersenyum. Dia  tidak menghiraukan ucapan-ucapan itu. Sedangkan Dea benar-benar terlihat sangat murka. Muka cemberut. Bibirnya menahan geram. Bola matanya memancarkan kemarahan.

“Kamu ketua osis ya?”, tanya Andre. “Kamu siswa teladan, tapi mengapa kamu tidak mengumumkan kebanggaan itu, sekolah pasti bangga kepada kamu”,

Dea diam. Dia tahu akan hal itu, dia sangat bangga dengan kemenangan kompetisi tersebut. Itu adalah impiannya. Hanya saja, dia tidak ingin bermain drum lebih daripada hobinya. Apalagi bergabung dengan anggota band lalu di ketahui orang lain. Dia hanya ingin hobinya sebagai secret. Sebuah secret yang akan menjadi sebuah kenangan indah untuk kakak tersayangnya. Sungguh, tidak lebih.

“Bukan urusan kamu! Sebaiknya kamu pergi saja dari ruangan ini, kamu MENGANGGU!”

Andre belum menyerah. Matanya menatap Dea dengan sangat tajam. Perlahan, Kakinya melangkah mendekati Dea. Dekat. Makin dekat. Sangat dekat. Sekarang, posisinya tepat saat berada di hadapan Dea. Dia masih menatap Dea. Lebih tajam daripada yang tadi. Bahkan lebih tajam daripada elang. Gadis itu menjadi salah singkah.

“Apaan kamu, jangan dekat-dekat aku!”, usir Dea.

Andre mengedipkan mata. Dia bukannya mendengarkan perintah Dea, namun semakin mendekat. Kedua tangan Andre memegang meja. Tubuhnya di bungkukkan dan mensejajarkan kepala ke kepala Dea. Wajahnya tepat berada pada wajah Dea. Matanya menatap tajam. Dea bisa merasakan nafas Andre yang tenang keluar dari hidungnya. Dag… dig… dug… Hati Dea berdetak dengan keras. Wajahnya memerah. Dia tersipu malu.

“Awas! Jangan dekat-dekat!”, usir Dea lagi.

“Ya, sudah. Besok aku datang lagi ya!”, ucap Andre melangkah pergi, dengan meninggalkan rasa kesal dan juga wajah tersipu bagi Dea.

***


“Pagi Pa, Ma!”, sapa Dea.

Papa Dea mengangguk kemudian melanjutkan lagi rutinitas paginya. Secangkir kopi dan sekumpulan koran. Mama Dea juga mengangguk. Dia mengambilkan sebuah piring, meletakkan nasi goreng dengan telur dadar, menuangkan susu putih, dan memberikan kepada Dea. Gadis tomboy itu melahapnya. EUENAKKK! Dea menambah lagi. Siapa sangka, Dea bisa menghabiskan dua piring nasi goreng dalam sekali duduk.

Tit… tit… tit…

Mama dan papa Dea menoleh kepadanya. Bunyi klason sepeda motor. Dea binggung. Siapa itu? Biasanya tidak ada seorangpun yang datang ke rumah pada jam segini. Dan tidak mungkin lagi jika ada yang menjemputnya. Karena selama ini, dia selalu menggunakan angkutan umum.

Tanpa pikir panjang, Dea segera beranjak dari tempat duduk dan berlari menuju pintu.

“Andre”, ucap Dea terkejut.

“Pagi”, kata Andre dengan tersenyum ramah, tapi sedikit kelihatan ada niat terselubung.

“Ngapain kamu di depan rumahku?”,

“Aku ingin jemput kamu, emang nggak boleh?”,

“Nggak!”, ucap Dea ketus sembari menutup pintu.

Mengapa sih cowok itu? Pagi-pagi sudah menganggu orang. Apa Andre tidak mengerti dengan ucapan kata tidak itu? Atau Dea harus menggunakan bahasa planet? Sesaat, Dea tertawa. Bahasa planet. Apa benar Andre alien?

“Siapa di depan, Dea?”, tanya mama Dea ingin tahu.

“Bukan siapa-siap kok, Ma!”, jawab Dea sembari melanjutkan sarapannya.

“Pa, hari ini aku  bareng dengan papa, ya!”, pinta Dea.

“Kok tumben. Ada apa Dea?”,

“Nggak ada apa-apa kok, Pa!”,

“Ya sudah, kamu siap-siap ya! Sebentar lagi kita berangkat”,

***


“KELUAR!”, bentak Dea.

Andre hanya tertawa saja melihat kemarahan Dea. Dia terlihat menikmati suara-suara melenking dari mulut Dea. Bahkan dia merasa sanga enjoy takkala Dea memukulnya dengan sangat keras dan menyuruhnya menjauh dari kursi jabatannya. Pengurus osis yang ada di ruangan itu hanya mengeryitkan alis. Mau bertanya ada apa? Tapi takut. Mau menenangkan amukan Dea? Tapi wajah Dea sangat lucu. Merah bagaikan tomat. Atau bisa di umpamakan seperti Patrick Star dalam film Sponge Bob Squarepants. Biarkan sajalah, mumpung tontotan gratis, pikir para pengurus osis sembari tertawa. Sedangkan Tari, dia tidak berkutik dengan pertengkaran itu. Bukannya dia tidak mau menenangkan Dea, hanya saja dia sudah terpaku dengan kegantengan Andre.

“Sabar dong, Dea. Kamu mau aku tidak menganggu kamu, kan. Nanti sepulang sekolah, aku tunggu kamu di parkiran”,

“PERGI SANA!”

“Hahahaha! Enak juga kursi ketua itu. Lain kali aku boleh duduk di sana lagi, kan”, ujar Andre dengan mengoyang-goyangkan kursi itu.

“TIDAK!”,

Andre kembali tersenyum. Dia menang dalam pertempuran batin pada pagi ini. Sungguh menyenangkan. Dia pergi menuju kelasnya dengan tawa kemenangan. Sebenarnya, Dea pantas marah kepadanya. Pagi-pagi sekali, dia sudah datang ke rumah Dea. Bukan hanya itu. Di ruang osis ketika Dea membuka pintu, dia mendapatkan Andre sedang duduk santai di kursinya.

“Dea, sabar! Nggak baik kalau cewek teriak seperti tadi”,Tari memberi nasihat.

“KESEL… KESEL… KESEL… Dia mau apa sih sebenarnya?”

“Emang ada apa sih antara kamu dan Andre?”,

“Sudahlah, Tar. Aku malas membahas mengenai Andre lagi. Aku muak!”, sembari meninggalkan ruangan.

“Tunggu, Dea!”, kata Tari mencoba mengejar.

***


“APA, DIA TAHU KALAU KAMU DION”,

“Sssstttt”, Dea menutup mulut Tari. “Jangan keras-keras. Kamu mau satu sekolah tahu”,

Sorry!”, ucap Tari meminta maaf. “Terus, kamu mau bagaimana?”,

“Aduuuh, Tari sayang. Kalau aku tahu, aku tidak akan pusing seperti ini”,

Tari mengangguk tanda mengerti. Perlahan, dia duduk di samping Dea dan merebahkan kepala ke pundak gadis itu. Dia juga menjadi binggung. Dia ingin mendukung Dea agar tetap bermain drum melebihi hobinya. Namun, dia tidak bisa mengatakan itu. Dia takut bila Dea akan terluka dengan perkataannya itu.

“Tar, sepertinya aku akan mengakhiri semua ini. Aku capek bila di ganggu terus”,

“Maksud kamu?”,

“Aku sudh memikirkan hal itu semalaman. Aku yakin, Kak Dion pasti menginginkan hal itu juga”, kata Dea sembari meninggalkan Tari yang kebinggungan.

***


Sudah di putuskan. Dea harus melakukan itu. Demi dirinya. Demi hobinya. Dan demi Kak Dion. Dia segera menuju korindor kelas XI IPS 2. Kepala celingak-celinguk mencari sosok Andre. Harus sekararng. Hatinya sudah tidak sabar lagi.

“Kok tumben ke kelasku?”, kaget Andre.

“Aku mau ngomong dengan kamu”,

“Ngomong aja. Tidak ada yang melarang”,

“Aku tidak mau ngomong di sini, bisa kita pergi ke ruang osis”,

“Boleh!”, kata Andre lembut.

Dea dan  Andre meninggalkan ruangan IPS itu. Mereka menuju ruang osis yang ada di sudut sekolah dekat perpustakaan. Hening. Tidak ada siapa-siapa di dalam ruangan itu.

“Terus, kamu mau ngomong apa?”, Andre membuka pembicaraan.

“Aku setuju”,

“Setuju?”,

“Ya, aku setuju gabung dengan band kalian”,

“WAH! Tidak nyangka pertahanan kamu sudah runtuh. Cepat juga kamu menyerah!”, kata Andre tertawa.

“Aku mau gabung dengan Scorpio tapi dengan beberapa syarat”,

“Syarat?, Apa maksud kamu?”,

“Aku tidak mau identitasku di ketahui oleh orang lain kecuali anggota Scorpio. Dan satu lagi, aku akan menjadi Dion saat performance”,

“Setuju”, jawab Andre tanpa pikir panjang.

“Oke, berarti kita deal”, kata Dea sembari menyodorkan tangannya.

Deal”, jawab Andre lagi dengan mengambil tangan Dea.

Perlahan, Dea tersenyum. Senyuman itu di sambut oleh Andre. Dea sudah teguh, dia akan bermain drum lebih dari sekedar hobi. Scorpio, mungkin nama band itu akan membawanya menuju kesuksesan. Mungkin saja akan membuat  Kak Dion tersenyum di dunia abadi.

“Pulang sekolah nanti, kamu jadikan ke parkiran. Aku antar pulang!”,

“TIDAK”, Teriak Dea dengan tegas.

Andre tertawa. Prinsip untuk bermian drumnya sudah runtuh tapi hatinya masih tertutup seperti dulu. Hatinya terkunci sangat rapat. Bahkan memiliki berlapis-lapis gembok.

“Kalau kamu tidak mau, terpaksa sepulang sekolah aku jemput di kelas, ya”, kata Andre sembari tertawa terbahak-bahak.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s