Dual Personality

“KYAAA…”

“Ada apa, Din?” tanyaku setengah berteriak, dan langsung menuruni anak tangga dengan dua langkah sekaligus, berlari ke arah sumber suara.

“An… Andre… Andre…,” Dinda menunjuk ke sudut ruangan, tepat di samping lemari berisi buku-buku tua yang telah menguning.

Hufh, aku menutup mulutku. Hampir saja suaraku melengking. Terjadi lagi, dan ini sudah korban kedua. Hingga sekarang aku tetap tidak mengerti.  Siapa, apa penyebabnya, dan mengapa harus kami yang menghadapi  kejadian ini? Dibalik itu semua, aku tahu satu hal. Aku – kami – sedang berada dalam gerbang kematian diantara pertualangan liburan yang seharusnya menyenangkan. Detik-detik yang berjalan adalah sakaratul maut yang akan datang.

Aku segera merangkul Dinda dengan erat, berharap dapat menenangkannya yang terisak histeris. Sekali-kali mataku memandang sosok Andre yang sudah menjadi mayat. Wajahnya sudah pucat dengan mata yang terbelalak lebar. Tangan kiri dan kanannya tergelantung lemah, setiap saat bisa jatuh ke lantai dan meninggalkan raganya. Tragis lagi, perut Andre sudah bermandikan darah merah. Tampak sedikit gulungan-gulungan kecil – aku yakin kalau itu adalah usus – keluar dari sarangnya.

“Aku ingin pulang, Nis,” lirih Dinda yang masih dalam dekapanku.

“Aku juga ingin, tapi kita terjebak di sini, Din,” ucapku semakin memeluknya dengan erat.

“Aku takut, Nis. Aku tidak mau mati seperti Dimas dan Andre. Aku tidak mau!” ujar Dinda, isakannya semakin histeris.

“Tapi kita tidak bisa ke mana-mana. Seluruh pintu terkunci dari luar. Jendela rumah penuh dengan teralis dan tidak ada jalan keluar apapun. Kita benar-benar terjebak di dalam rum___”

“Benar! Kalian tidak bisa ke mana-mana!” sebuah suara mengagetkanku dan memaksakan untuk memandang sosok Marko yang berdiri di depan pintu. “Kalian, terutama kamu Dinda, kamu harus membayar apa yang telah kalian lakukan di masa lalu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!”

Dahiku langsung berkerut, binggung. Marko tidak seperti biasanya yang selalu lembut dan penuh kasih sayang. Dari matanya, aku dapat merasakan berkas-berkas kebencian yangs sangat besar di sana. Bila diibaratkan, tatapan matanya itu seperti Buffalo Bill dalam film The Silence of the Lambs.

“Maksud kamu apa?” bentakku ketika melihat sebuah pisau berbentuk segitiga sama kaki yang berbalut ukiran seperti bahasa China  yang ada di tangan kirinya.

“Kalian akan mati, sama seperti kedua bajingan itu,” Marko terkikih, seolah ada yang lucu.

“Kamu yang membunuh mereka?” tanya Dinda berteriak.

“Bukan, tetapi cewek bodoh yang ada di sampingmu itu!”

Aku langsung terhenyak. Aku. Itu tidak mungkin.

“Jangan melantur! Aku tidak membunuh siapa-siapa?” ucapku lantang.

Marko tertawa, benar-benar sangat keras. Dia memandangku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, dan sikapnya itu justru membuatku semakin binggung. Sialan!, rutukku dalam hati ketika dia menyeringai ke arahku, dia seperti sedang menggodaku.

“Kamu memang tidak membunuh mereka, tetapi tubuhmu yang membunuhnya,” jelas Marko sedikit memajukan langkah, otomatis aku dan Dinda memundurkan beberapa langkah ke belakang.

Apa? Ingin rasanya aku berteriak, mengucap kata makian dengan kasar. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Ada sesuatu yang memaksaku untuk diam, apalagi sesuatu itu sedang berusaha mengenyahkan jiwaku dari raga ini. Sebuah suara pun tiba-tiba menghampiri. Suara cekikikan yang sedikit menganggu konsentrasi yang harus fokus dalam situasi menegangkan ini.

“Jangan mendekat! Kamu pembunuh!” ucapku ketika Marko kembali memajukan beberapa langkah ke arah kami.

“Pembunuh?” tanya Marko kembali terkikih-kikih, semakin membuatku binggung dengan keadaan yang ada. “Jangan berkata seperti. Kamu pasti akan menjilat air liurmu sendiri nanti”

“Jangan berbelit-belit, cepat katakan apa tujuanmu melakukan ini kepada kami?” tiba-tiba Dinda bersuara setelah beberapa menit lalu hanya terdiam.

Marko tertawa keras, “Kamu takut, Dinda?”

Dinda tak bergeming. Dia semakin menggenggam jemariku dengan erat. Aku sedikit meringis ketika genggamannya terlalu kuat dan sedikit menyakitiku.

“Amira,” ucap Marko dengan wajah serius tapi menakutkan.

Wajah Dinda langsung memucat. Tangan yang tadi mengenggam jemariku, kini tergeletak lemas. Tubuhnya menengang. Satu perkataan itu mampu membuat matanya terbelalak lebar, tampak alis-alisnya saling bertaut.

“Siapa di___”

“Kamu mau balas dendam untuknya,” potong Dinda sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Dia sedikit menyeringai – seperti mentertawakan sesuatu yang lucu – ke sosok Marko yang sedang menunggu penyelesaian kalimatnya. “Kamu mau membunuhku?”

Marko menggelengkan kepala,”Tidak, aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah hinamu. Tapi…”

Marko tidak melanjutkan kalimatnya dan justru memandangku dengan tatapan tajam. Bulu kudukku langsung berdiri. Bukan karena merasa takut, tapi aku merasa ada sesuatu yang sedang mengangguku. Sesuatu itu sedang berbicara lantang, hendak mengusir dari ragaku.

“Cewek bodoh itu yang akan melakukannya,” tunjuk Marko. “Tapi dia tidak akan melakukannya dengan tabrak lari seperti kalian, dia hanya akan menghunuskan pisau ini ke perutmu,” lanjut Marko tertawa kecil sembari menunjukkan pisau ke arah Dinda.

“Apa mak… maksud… ka… kamu?” tanyaku gagap, sedikit keringat bercucuran di sekitar keningku dan nafas yang terengah-engah.

“Nisti, bangunlah!” ucap Marko, kemudian dia mengucapkan beberapa kalimatnya yang tidak aku mengerti, dia seperti membaca mantera.

“Nisti?” tanyaku ketika dia memanggil nama yang tidak berbeda jauh denganku, Niska

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Ruangan yang berukuran 4 m x 4 m ini seperti berputar-putar. Di dalam ragaku, jiwaku merasa ditarik sesuatu dan aku tidak tahu itu apa. Aku juga mendengar cekikikan kecil dan langsung mengedarkan pandangan, mencari suara itu. Tapi nihil. Tidak ada siapa-siapa kecuali Dinda dengan ekpresi ketakutannya dan Marko yang kembali tertawa puas.

“Kamu mungkin tidak tahu kalau di dalam ragamu ada jiwa yang lain. Dia menyebut dirinya dengan Nisti. Kami melakukan hubungan mutualisme. Dia akan membantuku bila aku mampu menyikirkan jiwamu dari tubuhmu,” Marko menjelaskan dengan enteng.

ARGRH… Aku menjerit ketika rasa sakit menjerat ke tubuhku, tetapi tidak ada suara yang terdengar. Perlahan aku merasakana kalau diriku tak lagi di sana, di tubuhku. Sedikit demi sedikit meninggalkan raga itu. Aku bisa melihat kalau ragaku sedang berbicara dengan Marko dengan kata-kata yang tidak bisa didengar. Aku juga bisa melihat tubuhku mulai mengambil pisau segitiga sama kaki itu dari tangan Marko.

Seperti perkataan Marko, aku seperti menjilat air liur sendiri. Aku dapat menyaksikan bagaimana tubuhku menghunuskan pisau ke perut Dinda. Dia menusukkan beberapa kali hingga Dinda tergeletak lemas hingga tidak ada lagi deru nafas yang keluar dari mulutnya. Hanya tersisa raga Dinda yang berlumuran darahnya yang merah pekat.

“Tolong!” aku berteriak, tetapi suara itu justru tidak keluar. Dan tidak tahu sejak kapan, aku tidak berada di ruangan itu. Lenyap. Aku hilang dari tubuhku sendiri.

-Selesai-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s