Empat Hari

“Mau berangkat mal? Sekarang baru jam 8 pagi, kan?”

“Iya, Ian,” anggukku.

“Mau langsung ke kampus?”

“Mau ke WS dulu,” jawabku sembari masuk ke garasi kos dan mengeluarkan sepeda motor.

Suasana di sekitar kos tampak sunyi. Hanya suara deruman sepeda motorku yang bergema. Aku bergegas menaikinya dan menghilang dari kompleks kos. Perutku sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Cacing-cacing di dalam lambung sudah mengamuk dan minta diberi makan.

Sepeda motorku berhenti tepat di sebuah warung bertuliskan “Warung Sambal”, atau anak-anak kampusku sering menyingkatnya dengan “WS”. Katanya supaya terkesan lebih elit dan berkelas seperti Waroeng Steak. Dan seperti dugaanku, tempat ini tidak terlalu ramai seperti jam-jam makan siang. Hanya terlihat beberapa laki-laki sebayaku yang sedang menyantap makanan mereka. Aku segera mengambil piring dan meletakkan beberapa makanan. Tanpa berbasa-basi, aku langsung melahap hingga tidak sebutir nasi dan lauk pun tampak di atas piring.

Aku melirik jam tanganku. Masih jam 8. 37 dan masih ada satu jam bebas sebelum mata kuliah Metode Statistika II dimulai. Akhirnya aku memutuskan melanjutkan menulis laporan yang menyebabkan aku tidak sempat makan tadi malam. Alhasil ketika bangun tidur, perutku berbunyi seperti bunyi gemuruh gurung merapi.

Aku segera meronggoh tas ranselku, mengambil sebuah benda segiempat berukuran 14 cm dan meletakkannya di atas meja. Tiba-tiba mataku terpaku. Terjadi lagi. Aku selalu bersikap seperti ini saat membuka laptop. Sebuah tulisan singkat pada sticky note membuatku tak berkutik. Tulisan itu hanya terdiri beberapa kata dan lebih menyerupai pertanyaan. Namun tulisan itu mampu menguras otakku lebih kerasa daripada biasanya.

“Kamal!” panggil seseorang.

Secara spontan aku langsung menolehkan kepala. Seketika mataku mendapatkan sosok seorang gadis sedang memandang ke arahku sembari tersenyum. Dengan ragu-ragu, aku mencoba membalas senyumannya

“Hai,” sapaku singkat.

“Ngapain kamu di sini?” tanyanya ketika sudah mendekat ke arahku. Matanya sedikit melirik ke arah layar laptop yang sedang terbuka.

“Aku baru selesai makan dan sekarang ingin melanjutkan membuat laporan praktikum. Kalau kamu sedang apa di sini, Geb?” tanyaku meskipun kantong plastik hitam yang ada di tangannya sudah memberi jawaban.

“Membeli makanan untuk sarapan pagi,” jawabnya sembari memamerkan kantong plastik dihadapanku. “Nanti kita ngobrol lagi ya! Aku mau sarapan dulu. Bye Mr. Stolid,” lanjutnya sembari melangkah pergi.

Mr. Stolid?” lirihku, namun aku yakin dia masih dapat mendengarkannya.

“Karena kamu menjadi maba terdiam di angkatan kita,” ucapnya setengah berteriak di depan pintu keluar WS.

Bibirku hanya menyeringai, sedikit bangga. Alasannya sederhana saja. “Diam itu adalah emas”, itulah prinsipku. Jadi tidak heran pada saat orientasi dan pengenalan kampus, aku terpilih menjadi mahasiswa terdiam.

Tidak ini terlarut lebih dalam, aku kembali menatap layar laptop. Kembali pertanyaan di sticky note mengganggu benakku. Pertanyaan itu sangat sederhana, namun mengapa tidak ada jawaban yang memuaskanku. Cukup lama aku termenung, mencoba untuk mencari jawaban, dan berujung dengan keputusam untuk membuka microsoft word dan mulai bbergutak-katik dengan huruf-huruf QWERTY.

***

Tanganku yang memegang pulpen hitam bermain lihai di atas kertas. Sekali-kali kepalaku menghadap ke papan tulis, meng-scanning tulisan yang ada di sana, dan menulis ulang ke dalam buku catatan. Bagiku, namun tidak tahu menurut mahasiswa lain, hampir keseluruhan materi mata kuliah di jurusanku sangat berat untuk diserap ke otak. Harus membutuhkan  waktu belajar yang sangat ekstra. Materinya sangat berbeda jauh ketika masih berstatus siswa SMA, meskipun jumlah mata kuliahnya lebih sedikit.

Di dalam suasana keheningan itu, aku terus mencatat sambil sekali-kali menghela nafas panjang. Ada perasaaan jengah dengan suara berisik yang ada di sampingku. Apalagi masalah yang dibahas sangat tidak berhubungan dengan materi kuliah.

“Nanti sore acaranya, kan?” tanya cowok berambut sport spike yang aku ketahui bernama Bayu.

“Jangan lupa pakai almamater,” jawab cewek yang ada di sampingnya.

Perbicaraan itu terus berlanjut hingga dosen mengucap salam sebagai penutup kuliah. Huh! Aku menghela nafas lega. Akhirnya mata kuliah ini selesai dan aku tidak perlu mendengar celoteh dari dua sosok bernama Bayu dan Rethy, cewek yang baru aku ketahui namanya. Aku segera bangkit dari tempat duduk. Ingin pulang ke kos dan melanjutkan membuat laporan yang belum selesai. Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Sebuah tepukan halus membuatku memalingkan kepala. Aku langsung dihadapkan dengan seorang cewek yang sedang tersenyum ke arahku.

“Mau langsung pulang?” tanya Gebri.

Aku menganggukkan kepala singkat,”Ya. Ada apa?”

“Gabung jadi panitia yuk! Sekarang sedang open recruitment untuk Mipa Fair”

“Tidak, terima kasih,” gelengku menolak sehalus mungkin.

“Sudahlah, Geb. Kamal itu tipikal kuliah-pulang-kuliah-pulang. Hanya membuang waktu saja bila mengajaknya,” ujar Rethy yang tiba-tiba turut serta, kemudian ia menggandeng lengan Gebri dan menyeretnya.

 “Mal, aku minta maaf sebelumnya,” ucap Gebri sebelum Rethy menyeretnya lebih jauh.

Aku mengeryitkan alis tinggi, kebinggungan.

“Aku tidak sengaja membaca tulisan di sticky note-mu. Dan beri aku waktu empat hari untuk menunjukkan jawaban dari pertanyaan itu. Kalau kamu setuju, aku tunggu di ruangan IKS selesai mata kuliah Algoritma Pemrograman,” lanjut Gebri dan sebelum aku mengeluarkan beberapa kata, ia sudah diseret paksa menjauh dari kelas.

***

Hari ini, langit sedikit tidak bersahabat. Rintik-rintik air hujan mendadak jatuh ke permukaan bumi. Anehnya, aku tidak terlalu senang dengan keadaan itu. Padahal aku tahu, hujan adalah rezki dan anugerah bagi seluruh makhluk.

Aku berdiri terpaku di depan ruangan bertuliskan “Ikatan Keluarga Statistika”. Masuk. Tidak. Masuk. Tidak. Kata-kata itu terus berputar-putar. Seolah burung nuri sedang berkeliling di atas kepala. Dari luar, aku bisa mendengarkan perbincangan yang sangat asing di telingaku. Salah satu dari suara itu, aku mengenalnya. Ya, sosok yang akan memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaanku.

Tiba-tiba pintu IKS terbuka dan sosok Gebri berdiri tepat dihadapaku. Ia memamerkan senyum lebar, menyambut kedatanganku. “Masuklah! Yang lain sudah menunggumu”

Dengan ragu-ragu aku melangkahkan kaki. Pandanganku langsung beredar ke seluruhan ruangan. Mencari-cari sesuatu yang akan memberi jawaban pertanyaanku.Tapi tidak ada. Ruangan itu tidak lebih dari ruangan besar yang dikelilingi dengan rak-rak berisikan kertas-kertas proposal. Ada pula beberapa piala-piala dan komputer yang menghiasi meja.

“Duduklah di sini!” ucap Gebri sembari menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya.

Tak ada bantahan, aku menurut saja. Dan selama dua jam berikutnya, aku selalu mendengar dan mengamati kegiatan di sana. Perbincangan itu terlihat mengagumkan. Semua orang dapat mengeluarkan suara mereka. Baik itu tentang keluh-kesah dan argumen pendukung. Ruangan ini menjadi terlihat seperti konferensi meja budar, dimana setiap pendapat didengarkan dan dirumuskan menjadi suatu solusi. Tanpa sadar, aku mengembangkan senyum lebar. Sedikit memuaskan. Ternyata tidak salah saat memutuskan mengikuti kata hati.

“Bagaimana? Kamu sudah menemukan jawabannya?” tanya Gebri ketika kami telah keluar dari ruangan IKS.

Aku tidak menjawab, tidak pula menganggukkan kepala. Hanya tersenyum singkat.

Besoknya, Gebri mengajakku ke suatu tempat yang tidak terpikirkan olehku. Tempat yang menyerupai lapangan bola itu sudah dipenuhi kerumunan orang-orang. Mereka menggunakan almamater berwarna sama denganku. Diantara kerumunan itu ada yang memegang beberapa spanduk dan karton-karton yang bertuliskan kata-kata kritis.

Mataku melirik Gebri, berharap ia memberikan penjelasan. Tapi harapanku harus pupus. Ia sudah dahulu menyeret tubuhku hingga masuk dalam kerumunan. Ia juga memberikan sebuah karton bertuliskan “Tegakkan keadilan, selamatkan KPK!”. Selang beberapa menit kemudian, aku dan para kerumunan itu berkeliling memenuhi jalanan Yogyakarta sembari menyeruakkan beberapa kata support, berharap kata itu dapat membangun bangsa.

“Bagaimana? Sudah terisi puzzle jawabanmu?” tanya Gebri sembari menghapus beberapa butir keringat yang jatuh di keningnya.

Aku tidak menjawab, tapi sedikit menganggukkan kepala. Hari ini aku cukup puas dengan pertunjukkan jawaban dari Gebri. Pertunjukkan itu memberikan gambaran baru. Gambaran yang selama ini tidak pernah terbayangkan dan terlintas ketika menjadi seorang mahasiswa.

Hari berikutnya, aku bangun lebih pagi. Segera menuju ke Pasar Prambanan. Kenapa? Semula aku tidak mengetahuinya mengapa Gebri menyuruhku ke sini. Tetapi ketika berada di sana, aku mencoba menerka-nerka. Otakku berpikir sembari mata menikmati pemandangan pasar yang ramai. Ada yang berteriak menyebutkan nama barang-barang  yang tergeletak hamparan karpet. Ada juga yang bertutur ramah mengajak beberapa pengunjung untuk melihat-lihat. Adapula yang sedang menata barang-barang itu agar terlihat lebih rapi. Tapi diantara itu semua, mataku lebih tertuju kepada sosok gadis yang sedang menawarkan beberapa pakaian kepada para pengunjung.

“Mal, sini!” panggil Gebri dengan tangan yang melambai-lambai ke arahku.

“Jadi hari ini kamu mau menunjukkan apa?”

“Berjualan,” jawab Gebri tersenyum.

“Aku tahu. Tapi__”

“Sekarang aku akan memberimu tugas. Kamu harus menjual pakaian bekas ini dan harus laku terjual,” potong Gebri sambil menyerahkan beberapa helai pakaian.

Aku mengerutkan dahi sedikit sebelum mengambilnya. Tampak Gebri terkikih kecil.  Ia terlihat senang dengan ekspresiku yang tak punya arah. Dan sebelum suara terkikih itu menjadi gelak tawa, aku memutuskan untuk pergi menjauh dan melaksanakan tugas yang diberikannya.

Keringat bercucuran membasahi keningku. Cahaya matahari sudah semakin ganas tetapi tidak satupun barang daganganku terjual. Aku lirik Bayu yang juga ikut kegiatan hari ini, jumlah helaian masih menumpuk, tapi setidaknya ada beberapa pakaian yang sudah terjual.

PUK! Seseorang menepuk pundakku.

“Nih! Minum dulu,” Gebri menyodorkan sebotol air mineral dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku langsung meneguknya.

“Mahasiswa itu harus mampu berwirausaha dan berbisnis. Untuk mewujudkannya, butuh kemandirian dan kerja keras,” ucapku setelah rasa kering di kerongkongan tidak meraja rela.

Good! Good!” tukas Gebri menunjukkan salam jempol. “Btw, kamu sudah pernah ke Pantai Parangtritis?”

Aku menggelengkan kepala. Seingatku selama hampir satu tahun merantau ke tanah Yogyakarta ini, tempat yang paling jauh dikunjungi hanyalah Malioboro. Maklum, aku anak perantauan Sumatera yang tidak mengetahui seluk-beluk Yogyakarta. Darah dan keturunanku pun murni pulau besar itu. Di tambah lagi aku bukan sosok yang suka traveling, meskipun hanya sekedar untuk refresing.

“Besok aku, Rethy, Bayu dan beberapa teman lain akan pergi ke sana. Aku ingin, kamu juga ikut,” ucap Gebri.

“Jam berapa?”

“Nanti akan aku kabari lagi”

Gebri melangkah menjauh. Ia kembali dengan rutinitas awalnya. Begitupula denganku. Aku kembali menawarkan barang daganganku kepada pengunjung. Ketika letih menghampiri, aku curi-curi pandang ke sosok gadis itu. Semangatku mendadak bangkit. Seolah terhipnotis dengan semangat dan kerja kerasnya. Namun disela-selama semangatku itu, aku mengela nafas panjang, sedikit kecewa. Besok hari terakhir Gebri akan memberi dan menunjukkan jawaban pertanyaanku. Tapi akankah pertanyaan itu terjawab? Atau aku masih harus mencari-cari jawabannya?

***

Apakah bedanya mahasiswa dengan siswa? Apakah hanya sekedar penambahan kata “maha” saja?

“Terima kasih,” ucapku sembari duduk di samping Gebri.

“Tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya teman membantu sesama teman. Dan itu hanya segelintir kecil yang bisa aku tunjukkan,” jawab Gebri dengan senyum lebar. “Jadi apa yang kamu dapatkan?” lanjutnya dengan mata yang memandang ke arah laut, beberapa menit lagi fenomena alam paling indah akan terjadi.

“Diseminasi, kepedulian, cinta tanah air, bekerja keras, kemandirian dan …” aku tidak melanjutkan kalimatku. Mataku semakin lekat memandang ke arah beberapa orang yang sedang cekikikan dan tertawa lepas. Mereka menampakkan ekspresi ceria. Tampak juga sebuah tali hubungan yang kasat mata. “Dan persahabatan,” lanjutku yang kini memandang wajah Gebri.

“Saat kita masih SMA, kita tidak terlalu ambil pusing dengan hal-hal seperti itu. Tapi sekarang kita sudah mahasiswa. Semua tindakan akan menentukan sosok kita di masa depan. Akankah menjadi orang sukses atau tidak?” jelas Gebri panjang lebar. Tiba-tiba ia meletakkan jari telunjuk di dadaku. Matanya menatap lekat, bagai hendak menelan pupil mataku. “Bukan hanya pemikiran yang membedakan, tapi hati juga berbeda,” lanjutnya.

“Ya, hati juga berbeda,” ulangku mengerti. Aku tahu kemana arah pembicaraannya.

Sore itu, saat cahaya matahari menghilang dari bumi, saat warna jingga bersinar dan terpantul, saat air pantai bergelombang kecil, aku menyadari sesuatu. Ini bukan hanya tentang jawaban dari pertanyaanku, tetapi ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru disadari saat bersamanya. Tentang jodoh. Tentang pendamping hidup. Akhirnya aku menemukannya. Makna dan perbedaan mahasiswa dengan siswa. Juga arti dari gejolak yang bersarang selama empat hari ini.

-Selesai-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s