Dear diary 5

Ketika diary masa lalu yang selalu tertutup terungkap, kini aku membiarkan dia tahu. Ya, sosok yang jauh di sana.

12 Desember 2011. 16:35

Hari ini, dia mulai mendekatiku. Dia kembali seperti sosok yang selalu aku bayangkan sebelumnya. Namun, aku belum tahu tentang perasaannya kepadaku. Hatinya masih kabur. Kelam dan tidak terlihat.

Aku mencoba untuk bersikap seperti biasa. Tersenyum kepadanya bahkan menggoda ketua kelas yang sedang menggangguku. Aku melakukan hal itu agar dia lebih memperhatikanku yang sayang kepadanya.

Bimbel QR melaksanakan bimbingan belajar untuk persiapan ujian biologi. Sebenarnya, Anak Admiral telah mendapatkan soal ujian tersebut begitupula dengan jawabannya. Hanya saja, ada beberapa kendala yang mengharuskan perpecahan di antara anak cewek dan cowok.

Aku dan anak QR selesai melaksanakan bimbel dan saatnya untuk pulang. Aku, wanita jin, dan wanita mami berjalan menapaki jalan koridor sembari membicarakan tentang kemunafikan yang ada. Tiba-tiba, dia dan cewek bermata sipit itu menghampiri kami. Aku sedikit cemburu melihat keakraban mereka. Namun, aku hilangkan semua rasa itu dan mencoba untuk berpikir positif.

“Selain cowok itu dan cewek bermata sipit itu, bakal ada lagi yang jadian…”, ucap wanita jin sembari matanya menuju kearah dia.

Aku terkejut. Mata dia  menatap mataku dengan tajam. Dia seperti mengetahui sesuatu, sesuatu yang menjadi rahasia hatiku selama ini.

“Ada apa sih?”, ucapku mencoba mengalihkan.

Spontan, wanita Jin, wanita mami dan cewek bermata sipit itu tertawa. Aku dan dia pun ikut tertawa meskipun aku tidak tahu tentang apa yang di tertawakan tersebut. Perjalanan berlanjut hingga ketiga wanita itu menghilang dari pandanganku karena mereka menuju kantin. Sekarang, tinggallah aku dan dia yang melewati koridor lab biologi. Aku mencoba untuk bersikap biasa.

Aku berhenti di sebuah tiang koridor biologi sembari membaca sebuah slogan “You Can if You Think You Can”. Dia juga berhenti seperti diriku dan membaca arti tersebut. Aku mencoba mencerna kata-kata tersebut. Terpikir olehku sebuah buku dari cowok itu dengan judul “DASYATNYA BERPIKIR POSITIF”.

“Kita harus berpikir positif”, ucapku kepadanya.

Dia tersenyum menyeringai. Aku mulai risih dengan kedekatannya kepadaku. Mengapa ? Alasannya sangat sederhana karena aku belum terbiasa dengan dirinya. Aku menyayanginya namun aku belum tahu perasaannya.

“Cowok itu  dan cewek bermata sipit itu semakin dekat ya?” ucapku.

Ekspresinya mulai berubah. Ehm, entahlah. Aku tidak tahu tentang ekspresi itu. Aku tetap melanjutkan ceritaku tentang cowok itu. Aku telah memutuskan untuk tidak berbicara dengan cowok itu tentang sesuatu hal yang akhir aku tahu. Dia menyukai cewek bermata sipit itu.

Cemburu. Sepertinya dia cemburu kepada cowok itu. Namun aku belum pasti tentang kecemburuaan tersebut. Yang aku tahu, dia tidak menyayangiku.  Akhirnya aku memendamnya saja. Selalu bermain riang dalam cinta sesaat itu. Ah, lega! Ternyata cinta sesaat ini belum tumbuh seutuhnya. Biarlah hilang seiring berjalannya waktu.

 –> Dan cinta itu berakhir tanpa jejak dan kata-kata ini mengingatkanku. Hahahahaha, lucunya ketika masa-masa jatuh cinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s