Dear diary 4

Ketika diary masa lalu yang selalu tertutup terungkap, kini aku membiarkan dia tahu. Ya, sosok yang jauh di sana.

5 Desember 2011. 20:03

Aku cemburu. Aku sangat cemburu karena dia memanggil orang lain dengan nama aslinya. Hari ini, aku langsung badmood karena perkataannya tersebut. Aku tidak mau mengajaknya berbicara seperti biasa. Aku tidak mau dekat dengan dirinya. Aku tidak mau memandang wajahnya. Bagiku, dia hanyalah sesosok cowok yang tidak di kenal.

Aku sudah tidak tahan lagi. Dia tahu perasaanku namun dia berpura-pura tidak tahu. Hal itu membuat hatiku merasa sangat jengkel dan kesal. Seharusnya, dia ungkapkan perasaanya kepadaku atau menolakku dengan jelas. Aku tidak mau hubungan ini seperti seutas tali yang bergantung.

Akhirnya, aku memberi tahu kepada cewek bermata sipit itu bahwa aku cemburu kepada wanita Jin itu. Aku tidak suka dia memanggil nama wanita Jin itu di depanku. Panggilan sayang itu hanya untukku. Untungnya cewek bermata sipit itu mengerti dengan keegoisan. Dia tahu bahwa aku sangat menyayangi dirinya.

Rasa badmood-ku berlanjut hingga pemotretan Buku Tahunan. Saat dia mendekatiku, aku mengabaikannya dan menghindari dirinya. Aku menganggapnya tidak ada. Jahatkah aku?

Aku ingin dia tahu bahwa aku sedang cemburu. Aku ingin dia lebih memperhatikan aku daripada orang lain. Aku tahu, aku bukanlah pacarnya atau kekasihnya. Aku hanyalah seorang gadis yang menyukai dirinya. Jadi, aku tidak berhak melarangnya seperti yang aku inginkan. Namun, perasaan sayang ini menghantui pikiran positifku. Aku terhanyut dalam buaian cintanya. Hingga aku tidak memperdulikan sekelilingku yang sedang memperhatikan gerak-gerik kami.

Malam tiba. Selesai makan malam, cewek bermata sipit itu bertemu dengan dia. Aku tidak tahu apa yang sedang di bicarakan mereka. Namun, aku yakin bahwa cewek bermata sipit itu menyampaikan rasa kecemburuanku itu. aku berharap dia lebih peka dengan sikap kekanak-kanakanku.

Perempuan psikologis, teman sekamar cewek bermata sipit itu memanggilku sembari mengedipkan mata. Sepertinya perempuan psikologis sedang menguping pembicaraan mereka. Logikaku berjalan, bila perempuan psikologis mengedipkan mata kepadaku sembari memandang wajahnya, aku yakin kalau cewek bermata sipit itu dan dia sedang membicarakanku.

Hubunganku ini sudah banyak yang menyetujui. Namun, dia tidak pede dengan rasa –entah suka atau apa namanya- pada dirinya. Aku hanya bisa berdiam diri sembari menunggu datangnya hari bahagia itu.

5 Desember 2011. 22: 17

“Aku harus menyelesaikan tugasku”, tekadku di dalam hati. Jam sudah menunjukkan pukul 22.05 namun aku tetap nekad untuk mengantarkan tugasku kepada Mas Tata. Aku berlari secepat mungkin karena batas untuk masuk asrama telah hadir.

“Siska, mau ke mana?”, tanyanya. Aku terkejut dengan suara yang tidak asing itu. spontan, aku memandang ke arah suara tersebut dan mendapati dirinya sedang memandangku heran walaupun cahaya bulan tidak menapaki wajahnya. Aku yakin, dia sedang galau melihat tingkahku yang tidak memperhatikannya.

Tanpa banyak bicara, aku segera melangkah menuju kantin dan memberikan kerajinan itu kepada Mas Tata. Dan secepat kilat pula, aku melangkah menuju asrama putra dengan harapan dia sedang menungguku. Alhasil, dia tidak sedang berada di sana untuk menungguku melainkan Ketua Generasi berdiri tegak dengan wajah yang sangar. Dengan nada ketusnya, dia memarahiku di depan umum. Aku tidak memperdulikan hal tersebut. Hatiku sudah di penuhi dengan rasa kecewa darinya. Aku sangat kecewa kepadanya. Dia seolah-olah tidak menyayangikku seperti aku bayangan. Rasa sayang yang di berikan hanya rasa kepedean yang di tangkap hatiku.

Jam 22: 10. Aku masuk ke asrama namun tidak langsung pergi ke kamar. Aku menuju kamar Cewek bermata sipit itu untuk menanyakan pembicaraan mereka saat selesai makan malam. Tok… tok… tok… Aku mengetuk kamar bernomor enam tersebut. sesosok cewek berbadan ramping dengan tingga kira-kira 160 membuka pintu.

“Ada apa, ka?”,tanyanya.

“Ehm,,, tadi kamu mengatakan kalau aku sedang cemburu?”,

“Tidak ada”, jawabnya jelas.

Aku kembali kecewa namun aku tidak memperlihatkan rasa kecewa itu dari raut wajahku. Aku tidak ingin terlalu berharap kepada dia. Karena, orang-orang akan berpikir bahwa aku yang mengejarnya. Aku tidak mau orang beranggapan seperti itu.

Biarlah. Biarlah. Biarlah.

Aku menyimpan rasa ini hingga menyelesai sekolah di plus ini. Aku yakin akan melupakan perasaan ini seiring berjalannya waktu. Aku akan memberikan senyuman terindah di akhir kenangan sekolah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s