Dear diary 3

Ketika diary masa lalu yang selalu tertutup terungkap, kini aku membiarkan dia tahu. Ya, sosok yang jauh di sana.

2 Desember 2011. 11:20

Seminggu ini adalah hari tergalau dalam hidupku. Status hubungan yang tidak jelas dengannya dan gossip tentang kedekatanku dengan cowok itu membuat kepala seolah ingin pecah. Bagaimana tidak? Aku menyayanginya tapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku.

2 Desember 2011, seluruh anak kelas XII mengerjakan tugas Budaya Melayu dari Pak Andri di rumah makan. Aku dan dia merupakan satu kelompok yang menciptakan kesenangan tersendiri untukku. Sebab. Aku bisa lebih dekat dengannya.sungguh,  aku sayang dirinya.

Malam itu, Quantum Revolution mengadakan wawancara untuk tes perguruan tinggi. Aku di sarankan untuk mengambil jurusan Hubungan Internasional, Ilmu Administrasi Negara, dan Psikolog. Aku menolak ketiga jurusan tersebut karena tidak ada yang sesuai dengan kriteria hatiku. Akhirnya, aku meminta Pak Misbah menganti Ilmu Administrasi Negara menjadi FKIP Fisika yang merupakan jurusan yang akan di ambil esoknya.

Malam semakin larut. Cewek bermata sipit itu mengajakku  ke rumah makan untuk mengerjakan Budaya Melayu namun aku tolak. Hal itu di sebabkan karena aku mau berbicara serius dengannya mengenai hubunganku dengan cowok itu. Dengan setia, aku menunggunya hingga seluruh anak QR tidak ada kecuali cowok itu . Kami pun menuju ke rumah makan untuk mengerjakan tugas tersebut. Kami berjalan bertiga menyusuri jalan yang kasar tersebut.

Aku tidak berani bertanya serius dengannya karena cowok itu ada di sampingku. Aku hanya diam dan mengikuti alur pembicara dua insan tersebut. Tanpa terasa, kami telah tiba di asrama putra. Dia masuk ke asrama dan tinggallah aku dan cowok itu. Aku memang sengaja menghentikan cowok itu karena aku ingin dia mendengarkan ucapanku. Ucapan tentang sikap dia kepada cewek bermata sipit itu yang merupakan pujaan hatinya.

“Aku tidak akan merubahnya, namun bila dia mau berubah, itu terserah dia,” ucap cowok itu santai.

Aku menggelengkan kepala. Heran. Aku sangat heran dengan teman dekatku ini. Dia sangat menyayangi cewek bermata sipit itu, namun dia tidak mampu membuat cewek bermata sipit itu bahagia. Sebagai teman di antara mereka berdua, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Aku tidak bisa membela salah satu di antara mereka karena menurutku mereka adalah teman-teman yang bisa mengerti diriku.

Cowok itu masuk ke dalam asrama. Selang beberapa menit kemudian, dia datang. Dia dan aku segera menuju ke rumah makan karena kami telah di tunggu oleh anggota lainnya.

Malam ini sepertinya bukan malam yang tepat untuk membicarakan hal yang serius kepadanya. Banyak penghalang yang telah memberi tembok di antara kami. Namun, aku masih berusaha untuk berbicara dengannya.

“Apakah kita bisa berbicara sekarang?”,tanyaku.

Dia mengangguk. Kami menuju koridor rumah makan putri. Aku bersandar pada salah satu tiang koridor dan begitupula dengan dia. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus mulai dari mana tentang pembicaraan tersebut.

“Menurut kamu hubungan aku dengan cowok itu bagaimana?”, bukaku.

“Ehm… sangat… sangat dekat. Kalian sangat dekat kalian,,,

Skip Skip Skip Skip Skip Skip Skip Skip Skip Skip Skip Tidak perlu di ungkapkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s