Ramalan Bintang

Hari minggu pukul 11.00 WIB, aku sedang berbaring ria di tempat tidur sembari mengetik tombol huruf pada N95-ku. Sebuah pesan sayang telah di kirim untuk kekasih tercinta, seorang laki-laki berusia setahun lebih muda dariku. Andi, nama itulah yang sedang mengisi hatiku.

“Kak, majalahnya sudah datang”, teriak adikku dari balik pintu.

Aku segera melangkah untuk keluar kamar. Aku sudah tidak sabar untuk membaca majalah tersebut. Lembaran ramalan bintang pada majalah tersebut membuat hati selalu berdebar. Mengapa? Alasannya sangat sederhana. Ramalan bintang yang tertera di kertas warna-warni itu selalu memuaskan hatiku. Kata-kata tentang asmara selalu tepat dengan kehidupan cintaku dengan Andi.

Namun pagi ini berbeda. Kata-kata dalam ramalan bintang itu membuat wajahku cemberut. Kamu dan si doi sedang masa kritis, jangan buat doi menjadi semakin ingin menjauh darimu, begitulah bunyinya. Jantungku berdetak dengan sangat kencang. Bergemuruh seolah petir sedang meraja rela di hamparan langir. Otak tidak dapat berpikir dengan jernih. Hatiku mulai meragukan cintanya.

Aku memandang layar handphone-ku. Tidak ada pesan yang masuk ke dalam kotak pesan. Aku mencoba untuk berpikir tenang. 15 menit berlalu, Andi belum juga membalas pesanku. Aku mulai gelisah. Perkataan dalam ramalan tersebut menghantui otak jernihku. Kata-kata itu seolah racun yang memakan kenangan indah bersamanya.

***

Pagi ini, Andi tidak menjemputku untuk pergi sekolah bersama. Dengan sangat terpaksa, aku harus ikut dengan adik laki-lakiku. Tadi malam, mataku tidak mau terpejam. Kata-kata dalam majalah tersebut masih teringat sangat jelas dalam benakku. Sungguh sangat membuat hati ini menjadi kacau dan galau.

“Randi, Andi ada di dalam kelas?”, tanyaku saat tiba di depan kelasnya.

“Tidak, Kak”, jawabnya.

Aku gelisah dan rasa ragu itu semakin membesar. Ada apa gerangan dengan Andi? Apakah dia sudah berselingkuh belakangku? Apakah dia mempunyai pacar yang baru? Pertanyaan itu silih berganti mengisi implus-implus pikiran negatifku.

“Andi”, panggilku ketika aku melihat sosoknya di ujung koridar kelas.

Aku segera menuju ke arahnya. Namun, dia mengabaikan kedatanganku seolah-seolah dia tidak melihatku. Dia berjalan tanpa menatap wajahku bahkan tidak menyapaku. Seketika itupula, aku meneteskan air mata. Ramalan itu kembali tepat untuk kehidupan cintaku.

Aku tidak masuk ke dalam kelas. Aku ingin menyendiri dan menenangkan hatiku di ruang PMR sekolah. Aku masih belum percaya, Andi meninggalkanku padahal kami sudah menjalin hubungan kekasih hampir dua tahun. Namun kini, hubungan itu telah hancur. Air mataku kembali menetes dengan sangat deras. Aku tidak dapat melupakanya.

“Selamat tahun, sayang”, ucap seseorang yang mengejutkan diriku.

Aku memandang sosok suara itu. Andi berdiri tegak sembari memegang sebuah kue ulang tahun berangka 18.

“Maaf, aku tidak membalas pesan dan mengabaikanmu. Aku cuma ingin mengetahui perasaan seseorang yang sangat special bagiku. Ketahuilah, kamu adalah gadis yang akan selalu ada dalam hatiku selamanya”, ucapnya dengan tersenyum.

Aku membalas senyumannya. Kata-kata pada majalah tersebut kembali terlintas dalam benakku. Ramalan itu tidak tepat. Dan ramalan yang biasanya sesuai dengan kehidupan cintaku, hanyalah sebuah kebetulan belaka. Aku sudah menyia-nyiakan energi untuk keraguan yang tidak penting. Aku tidak ingin lagi meragukan cintanya kepadaku.

“Andi, aku sayang kamu”, kataku sembari menyuapinya sepotong kue kepadanya.

-Selesai-

NB: Sri Siska Wirdaniyati_Khai Purple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s