Cahaya yang Hilang

Kehidupan bukan untuk di sia-siakan. Namun, kehidupan untuk di pertahankan dari dunia kegelapan agar bangkit menjadi yudha yang melindungi bahari.

Gemersik air laut berdendang merdu. Lambang kebiruannya tertanam lekat di kedua bola mata. Seolah menenangkan hati yang tidak tampak di wujud tubuh letihku. Beningnya pancaran air mengingatkan aku kepada seorang gadis yang telah menyadariku dari kegelapan.

Aku masih ingat jelas kenangan enam bulan yang lalu sejak kedatanganku hari ini. Diri yang membenci kehidupan dunia. Hati yang memberontak tidak tentu tujuannya. Namun, ketika dia datang sebagai lampu pelita di malam sunyi, duniaku seolah berubah menjadi matahari.

“Nama kamu Agi. Perkenalkan, namaku Bahari Rany. Dari Pekanbaru baru, ya?”, ucapnya ramah.

Aku tidak menghiraukan ucapnnya. Aku lebih tertarik dengan sebatang rokok di kantong celanaku. Pelatuk api di hidupkan dan membakar ujung rokok. Hisapan pertama, rasanya sangat nikmat. Hisapan kedua, rasa itu semakin membuat nikmat seolah dunia buruk di kehidupanku menghilang.

“Jangan merokok. Tidak bagus untuk kesehatan kamu”, ucapnya sembari mengambil rokok dari mulutku.

Aku melototkan mataku ke arahnya. Rasa geram dalam hati masih bisa di tahan, mengingat dia adalah seorang gadis. Tidak gentleman melakukan kekerasan pada seorang gadis. Perlahan-lahan, aku ulurkan tangan menandakan agar rokok di kembalikan. Namun, dia mengacuhkan permintaan itu.

“Kamu seharusnya bisa menghargai hidup. Banyak orang-orang yang ingin hidup namun takdir tidak menghendakinya. Seharusnya kamu bersyukur bisa menjalani kehidupan yang normal”, katanya menggebu-gebu.

“Jangan suka ikut campur deh. Dasar cewek kampung!”, ucapku kasar.

“Aku memang cewek kampung. Tapi setidaknya aku memiliki pikiran sejernih air laut di sana”, ucapnya sembari menunjukkan ke arah pantai di depanku.

Aku tidak peduli dengan ucapannya. Hidup normal. Aku tidak tahu dengankehidupan normal itu. Selama ini, aku selalu di kelilingi oleh orang-orang yang tidak memberikan kasih sayang. Di mata hanya terukir materi yang di miliki orang tuaku. Kadangkala, aku benci hidup dengan kemewahan yang mengenggam kehidupanku. Seolah mengikat diri menjadi sarapan sang raksasa.

Mataku beralih pada sosok cewek yang terdiam terpaku melihat pantai. Tinggi tubuh yang hampir sama. Bibir merah menghiasi senyumnya pada laut biru. Mata tertuju penuh kepastian, menunjukkan kebahagiaan tiada tara. Dia seperti malaikat kecil yang turun dari langit untuk memberikan cahaya pada sang insan.

***

Tring… tring… tring…. Bunyi handphone membangunkanku dari tidur lelap. Pagi memberikan kesejukan di setiap balutan kulit pada tubuh. Betapa indahnya pagi yang di temani oleh cahaya matahari. Aku dengan malas berjalan menuju jendela. Tirai di buka dan terhampar luas pemandangan laut yang indah. Handphone di tangan mulai membuka inbox sms yang baru.

Sayang, kamu ada di mana? Mama dan Papa hari ini akan bercerai. Jadi kamu harus datang ke Pengadilan Agama. Jam 10.00 Wib akan di mulai.

Aku membanting keras handphone ke halaman rumah penginapan itu. Hatiku sangat letih harus menghadapi keluarga yang tidak pernah utuh. Pertengkaran selalu menjadi sarapan di setiap pagi. Kekerasan seolah menjadi pembukaan dalam hidupku menuju sekolah. Sungguh, aku sangat capek dan letih menghadapi kenyataan ketidakharmonis keluarga ini.

“Hei, yang di atas. Jangan buang-buang handphone sembarang. Kalau tidak mau, berikan saja kepada yang memerlukan”, teriak seseorang dari bawah balkon.

Gadis itu lagi. Dia selalu mengganggu kehidupanku. Aku butuh ketenangan untuk menyegarkan otak ini.

“Kalau mau ambil saja. Dengan syarat, kamu jangan ikut campur urusanku”, ujarku sembari meninggalkan dirinya yang kelihatannya kesal.

Pikiranku tidak tenang. Aku mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Diriku baru kelas 2 SMA tapi rokok telah merasuki jiwa. Dengan rokok ini, hati sedikit tenang dan menghilang masalah yang ada untuk sesaat.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Masih 1 jam lagi sebelum orang tuaku berpisah. Mungkin, hubungan keluarga ini tidak akan pernah utuh. Aku melangkah meninggalkan ruangan untuk mencari ketenangan. Angin pantai menerbang rambut yang belum di potong. Dapat aku rasakan kebahagaian bagaimana anak yang berkumpul bersama keluarganya. Menikmati pemandangan gulungan ombak menyambut planet biru.

“Nih”, kata seseorang mengejutkanku.

Aku mengela nafas. Gadis itu lagi. Sehari saja, aku ingin menikmati ketenangan ini sebelum hal-hal buruk akan menimpaku.

“Aku sudah bilang, untuk kamu saja”, ucapku angkuh.

“Terserah kamu mau bilang apa, tapi angkat panggilan Orang tua kamu”, katanya sembari menyodorkan handphone tersebut.

“Buat apa? Kamu tidak tahu bagaimana sikap mereka”,ucapku dengan nada tinggi.

“Aku memang tidak tahu. Tapi setidaknya kamu harus mengangkat panggilan itu. Mereka orang tua kamu,”

“Mereka bukan orang tuaku. Kalau benar mereka adalah orang tuaku, mereka tidak akan bercerai. Mereka pasti tahu bagaimana rasa seorang anak yang membutuhkan kasih sayang”,kataku dengan nada yang lebih tinggi lagi.

Raut wajahnya mendadak berubah. Tampak kesedihan dari wajah bulatnya itu. Namun kesedihan itu bukan kesedihan seperti yang aku rasakan. Perlahan, setetes air mata bening terjatuh di kedua pipi. Bibirnya menahan amarah. Aku tidak mengerti tentang keadaanya.

“Kamu tahu?”, tanyanya.

Aku terdiam. Tidak ada kata yang bisa di ucapkan. Aku tidak tahu tentangnya. Tetesan air matanya masih mengalir. Namun tidak sederas yang tadi.Dia sudah mampu menenangkan diri.

“Aku adalah seorang yatim piatu. Ibu dan ayahku meninggal tertabrak mobil saat berumur 7 tahun. Hari itu, aku melihat darah orang tuaku berserakan di dalammobil dan membasahi kaca mobil. Saat itu, aku sangat ketakutan. Hampir 1 tahun aku tidak berbicara apa-apa. Namun, aku mulai berpikir, mereka pasti sedih melihat keadaanku yang sedah rapuh. Aku harus bangkit. Memperbaiki kehidupanku dengan kenangan-kenangan indah yang akan menopangku”, ucapnya lembut.

Mulutku masih terdiam. Otakku masih berpikir tentang kisah sedih di masa lalunya. Kalau kejadian itu menimpaku, mungkin aku tidak sekuat dirinya. Bukan kata yang tidak keluar dari mulut, tetapi mungkin aku akan menyusul mereka disurga.

“Kamu harus bersyukur masih mempunyai kedua orang tua. Walaupun mereka menanggapimu dengan sikap acuh. Namun, kamu harus yakin mereka selalu menyayangimu karena mereka orang tua kamu”,ucapnya sembari meningglkanku menuju pantai.

Aku baru sadar, tubuhnya sangat kurus. Hanya terlihat kerangka seperti kulit tanpa daging. Penderitaan yang di alaminya tidak sebanding dengan apa yang terjadi denganku. Keyakinan akan kasih sayang orang tuanyalah, dia mampu bertahan hidup. Jam menunjukkan pukul 9. 30 wib. Aku segera meninggalkan pantaidan menuju ke tempat orang tuaku. Aku tidak ingin mereka berpisah. Aku harus menyatukan mereka kembali.

***

Orang tuaku membatalkan perceraian mereka. Penjelasanku memberikan keyakinan bahwa keluarga ini pasti dapat di satukan. Semuanya harus di mulai dari awal. Yang Maha Kuasa memberikan hal terindah untuk setiap umatnya.

Bahari Rany, nama sesososk malaikat yang memberikan kesejukan hati pada diriku. Dirinya seolah datang untuk menolongku dari kehancuran. Dalam hati, aku berjanji untuk memperbaiki sikap dan sifatku. Aku tidak akan merokok lagi dan memperbanyak melakukan ibadah yang selama ini selalu di tinggal.

“Permisi Bu, Bahari Rany ke mana?”, tanyaku kepada penjaga penginapan.

“Oh… Tuan. Sudah lam tidak ke sini. Ehm… sebenarnya”,

“Sebenarnya apa, Bu?”

“Rany telah meninggal dunia. Dia mendonorkan jantungnya”,

“Apakah semua itu benar, Bu?”

Ibu itu mengangguk. Aku tidak percaya, Rany telah pergi ke tempat sang Pencipta.Malaikatku telah menjadi malaikat yang sesungguhnya dan berada di sisi terindah sang Maha Kuasa. Aku telah kehilangan cahaya yang menerangi diriku bagaikan matahari. Tanpa terasa, air hujan turun dengan deras seperti keadaan hatiku yang sedang menangis. Di ujung pantai, aku seperti melihat Rany yang sedang bermain dengan ombak. Wajahnya terlihat bahagia dan bibirnya tersenyum sejuk.

“Selamat jalan, Bahari Rany”, ucapku.

-Selesai-

By: Sri Siska Wirdaniyati_Khai purple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s