Buku Tugas

Alisa menghela nafas panjang. Butir-butir keringat bercucuran membasahi dahi dan seluruh tubuh mungilnya. Seragam olahraga birunya sudah mulai membentuk bercak-bercak kecil. Cahaya matahari telah meninggi dan  sosoknya seolah berada satu jengkal dari ujung kepala. Rasa haus menjelajah dalam kerongkongan.

Alisa membantingkan tubuhnya ke kursi kayu. Matanya melirik ke kalender di dekat pintu dan bibirnya langsung mengembang lebar. Ternyata dia sudah menjalankan rukun islam ke-3 selama 23 hari. Tidak menyangka, bulan penuh berkah ini dapat di jalankan dengan sangat lancar. Dia masih mampu menahan segala nafsu lahir dan godaan dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Mata Alisa kembali melirik. Sekarang kedua bola matanya menjelajah setiap sisi ruangan. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Tiba-tiba matanya terpaku pada setumpuk buku. Tanpa sadar, kakinya melangkah mendekati meja segiempat. Tangannya mulai mengangkat satu per satu buku tugas matematika itu, mencari-cari namanya dalam tumpukkan tersebut. Perlahan dia menghela nafas lega. Bukunya masih ada.

Alisa belum beranjak, dia masih terus mengangkat satu per satu buku tugas tersebut. Akhirnya gerakannya berhenti pada sebuah buku dengan nama yang sudah tidak asing lagi di benaknya. Bahkan bisa di bilang sangat melekat dalam memori terburuk dalam kehidupannya beberapa bulan yang lalu.

“Alisa, aku boleh pinjam buku tugas kamu? Punyaku belum selesai?” pinta Yanu dengan wajah memelas.

“Tapi… “

“Malam tadi aku tidak sempat ngerjainnya, makanya hari ini aku mau nyontek punya kamu,” ujar Yanu menimpali lagi.

Alisa terdiam sejenak, dia berpikir. Sudah berulang kali dia mendengarkan alasan-alasan itu. Sudah berulang kali pula dia meminjamkan buku tugasnya kepada cowok tersebut. Padahal awalnya dia menduga Yanu akan berubah. Setidaknya mampu mengerjakan tugasnya sendiri. Dia harus membiasakan diri untuk bertanggung jawab apalagi dia adalah seolah laki-laki yang kelak akan memimpin sebuah keluarga. Tapi dugaan itu hanya sebatas dugaan yang tak terwujud.

Alisa segera menggelengkan kepala. Dia menolak permintaan Yanu. Seketika itupula Yanu menggeram. Wajahnya langsung memerah memancarkan aura amarah. Giginya saling beradu hingga suara tak tuk terdengar. Nafasnya mulai turun naik. Emosinya meluap.

“Dasar pelit! Awas kamu ya,” bentak Yanu kasar.

Alisa hanya tersenyum, mencoba bersikap tenang seperti biasanya. Dia segera melangkah keluar dari kelas. Setidaknya dia tidak ingin membuat Yanu semakin murka dalam kemarahan. Apalagai sampai mengusik ketenangan dalam kelas dengan kata-kata kasarnya. Bukan hal aneh kalau Yanu bersikap seperti itu termasuk pada seorang cewek. Mungkin karena kehidupan yang serba mewah dan bercukupan membuatnya merasa berada di atas langit. Dia merasa kalau dirinya yang paling hebat. Padahal harta dan tahta bukan segalanya di dunianya. Apalagi di mata sanga pencipta. Di mata sang Al Malik, manusia itu sederajat. Tidak ada yang kaya dan yang miskin.

***

Ting… tong… bel masuk berbunyi. Pak Bondang dengan wajah garang dan gaya bak seorang polisi yang siap menangkap pencuri masuk ke dalam kelas. Seketika itu semua murid duduk dengan sangat rapi, Mereka siap untuk mendapatkan ilmu, atau mungkin lebih tepatnya tidak ingin menjadi sasaran mangsa bapak gembul itu.

“Kumpulkan tugas kalian sekarang!” seru Pak Bondang tanpa basa-basi.

Para murid satu per satu mulai maju.  Tidak sampai lima menit, murid-murid itu sudah kembali ke posisi semula. Mereka kembali duduk dengan sangat rapi dan tenang. Hanya Alisa yang dari tadi kasak-kusuk di tempatnya. Dia panik dan gelisah. Seingatnya, pagi tadi dia masih melihat bukunya tergelatak santai di dalam tasnya. Namun sekarang, wujud kecilnya itu tidak tampak.

“Alisa, kenapa?” tegur Pak Bondang di ikuti dengan tatapan temannya yang ingin tahu.

“Buku saya tidak ada pak, tapi saya yakin tadi masih ada,” jawab Alisa terbata-bata.

Mendengar jawaban Alisa, Pak Bondang langsung mengeram. Kumisnya yang lebat terangkat. Matanya kecilnya membesar bekali-kali lipat. Dari hidung seolah keluar asap-asap kecil tanda kemurkaaanya. Seketika itupula, pandangan teman-temannya mendadak iba.

Alisa tidak perlu menunggu perintah apalagi bentakan Pak Bondang. Dia tahu apa yang harus di lakukannya. Sebelum meninggalkan kelas, dia memandang seluruh penjuru kelas. Matanya terpaku pada sosok yang tersenyum penuh kemenangan. Tapi dia tidak mau berprasangka buruk. Belum tentu Yanu menyembunyikan buku tugasnya. Tapi mengapa hatinya merasa sangat yakin dengan firasatnya ini? Apalagi matanya samar-samar menangkap sebuah buku di tangan Yanu yang sangat di kenalnya, sebuah buku merah muda berbalut sampul plastik transparan yang sangat bening.

“Alisa, kamu sedang apa?” ucap Tantri membuyarkan lamunan Alisa.

“Tidak sedang apa-apa kok,” jawab Alisa sembari tersenyum.

“Kalau memang begitu, aku mau ke kursiku dulu ya”

“Ya, silahkan!” kata Alisa mempersilahkan.

Mata Alisa kembali tertuju  pada buku tugas di tangannya. Pemilik buku ini sudah banyak membuatnya dalam kesusahan. Semenjak kejadian itu, Pak Bondang sudah tidak pernah percaya lagi. Sosok image anak teladan dalam dirinya telah hilang.

“Ayo ambil, kemudian sembunyikan buku tugas itu. Biarkan Yanu merasakan apa yang kamu rasakan dahulu. Kapan lagi kamu bisa melakukan balas dendam kepadanya kalau tidak sekarang!” sayup-sayup Alisa mendengarkan suara bisikan di telinganya.

“Ambil buku itu Alisa! Kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Ingatlah ekspresi kemenangannya saat dia mengaku di hadapanmu bahwa dia yang menyembunyikan buku tugasmu itu. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Alisa!” suara sayup-sayup itu kembali berbisik.

“TIDAK!” teriak Alisa membuat Tantri yang sibuk dengan kegiatannya baru terkejut.

“Kenapa Lis?”

“Tidak ada apa-apa kok! Hanya kaget melihat kecoa di sepatuku,“ jawab Alisa beralasan.

Alisa terpaku dalam pikirannya. Perlahan bibirnya mengembang membentuk senyuman. Dia memandang lekat pada buku tugas bertuliskan nama Yanuar Esya tersebut. Hari ini Alisa mendapat pelajaran penting. Bulan Ramadhan itu memang penuh keajaiban. Bulan suci itu memang penuh hikmah. Bulan puasa itu memang penuh berkah. Sebenarnya tidak perlu bersusah payah apalagi bekerja keras untuk membalas dendam. Cukup dengan memaafkan setiap kesalahan. Kata maaf adalah pembalasan yang terbaik. Apalagi memaafkan di bulan penuh keajaiban, hikmah, dan berkah ini. Kalau di umpamakan dengan materi di dunia, seperti tidak ada nilai dan bandingnya. Sungguh, Allah memang Maha Memiliki Kebesaran dan Maha Pemberi.

-Selesai-

NB: Sri Siska Wirdaniyati_Khai Purple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s