Agung untuk Via (For U)

Tik…tik…tik… rintik hujan menghujam bumi yang masih pagi dengan sinar mendung. Suara kicauan burung masih terdengar menyambut pagi. Bunyi telapak sepatu bergemuruh menerpa lantai basah oleh hujan.

“Via…”, kata Pak Marwan.

“Maaf Pak. Ehm… Saya datang Terlambat. Cuaca sedang tidak bersahabat”, ujarnya tersenyum

“Baiklah. Duduk kamu”.

“Terima kasih Pak”.

Dia langkahkan kakinya menuju kursi berwarna kecoklatan. sekali-kali di pandanginya wajah pak Marwan berbentuk oval. Hari ini hari keberuntungan bagiku, katanya dalam hati.

“Via,,, beruntung banget kamu”, ujar Rara menyenggol sikunya.

“Ya. Hari ini hari keberuntungan bagiku. Apalagi mama dan papaku memberi uang jajan lebih untukku meskipun pertengkaran terus terjadi dan aku juga bisa lepas dari hukuman pak Marwan, si monster berkumis”.

“Ha…ha… Kamu keterlaluan Via. Dia guru kita”.

“Aku tau kok. Siapa suruh Pak Marwan jadi orang galak”.

“Sssttt… diam. Pak Marwan melihat ke arah kita”, kata Rara sembari mengangkat jari ke bibirnya.

Via berpura-pura menulis sesuatu di buku. Pikirannya tidak ada di ruang itu, tapi merantau ke dunia khayalan tinggi.

***

Kruk… kruk… bunyi perut Via berdendang. Tanpa menunggu Pak Marwan keluar dari kelas, dia sudah melesat ke kantin Pak De. Pak De terlihat sudah mempersiapkan bakso untuk di santap.

“Pak De, baksonya satu ya. Super pedas Pak De!”

Pak De hanya mengangguk kecil. Gadis tomboy ini memang biasa makan bakso yang super-duper pedas. Keringatnya bercucuran di saat dia menghirup kuah bakso. Bakso Pak De memang sangat enak sehingga  baksonya tidak ada yang tidak habis terjual.

“Via, Pak Marwan suruh kamu ketemu dengannya”, kata Rara memberhentikan makannya.

“Eh… emang aku ada salah apa?”.

“Tidak tahu. Coba ke kantor dulu”.

“Bentar lagi deh. Tunggu aku habiskan Bakso ini”, katanya sembari memakan bakso.

Rara hanya mengeleng melihat tingkah teman kecilnya itu. Walaupun begitu, Via mempunyai otak yang encer sehingga dia masuk dalam peringkat 3 besar. Setelah Via menghabiskan baksonya, dia langsung melesat menuju ke kantor guru. Ruang itu sungguh sunyi sepi. Dengan hati-hati, dia masuk dan menuju ke meja Pak Marwan.

“Permisi Pak. Ada apa saya di panggil”, tanyanya.

“Mengapa nilai ulangan kamu semuanya menurun? Apa ada masalah?”.

“Ehm… tidak ada apa-apa kok Pak, hanya…”, katanya terputus.

“Hanya apa?”.

“Saya pikir, walaupun saya belajar dan menapatkan ranking, namun orang tua saya tidak akan pernah mau tahu tentang saya. Jadi untuk apa saya belajar?”.

“Ehm… seterah kamu. Tapi apa kamu tidak malu dengan Agung yang tidak sering datang ke sekolah, nilainya lebih tinggi dari pada kamu”.

“Agung ! siapa dia Pak?”.

“Kamu tidak kenal dia. Dia yang selalu masuk rumah sakit”.

Via sering mendengar anak yang sering masuk rumah sakit, tapi dia tidak pernah melihat langsung orangnya. Dia terkenal dengan si jenius dunia lain.  Walaupun dia jarang masuk sekolah, dia selalu mendapat ranking pertama. Via belum pernah bertemu dengannya ataupun berbicara. Dia dengar dari Rara, wajah Agung sangat tampan dan anak direktur sebuah periklanan terbesar.

Tiba-tiba, mata Via terpaut ke segerombolan orang yang sedang menompang seorang cowok. Secepat kilat, Pak Marwan  menuju ke gerombolan itu dan menolong mereka. Via hanya terpaku diam tanpa ada niat untuk menolong. Dia lebih suka diam dan menonton, karena itulah yang terbaik buatnya.

Langkah kakinya tidak lagi menuju ke kelas, tapi terus menuju ke UKS sekolah. Rasa penasaran dengan cowok yang tidak sadarkan diri itu, tumbuh dengan sendiri seperti benang merah yang terikat di kelingking mereka.

Srak… bunyi tirai terbuka. Mata Via menyusuri sudut setiap tempat segiempat itu. Hembusan angin bertiup membelai rambutnya di celah-celah dinding ruangan.

“Hai”, panggil seseorang memecahkan kesepian.

“Hai”, jawab Via mencoba untuk santai.

“Kamu Via, anak XI IPA 2, perkenalkan aku Agung, anak XI IPA 1”.

“Ehm… Iya”.

“Ada apa datang ke sini?”.

“Aku Cuma mau ambil obat kok. Kamu ? “, jawab Via.

“Aku sedang sakit. Jadi aku mencoba untuk istirahat di sini”.

“Oh… “.

“Apa kamu mau menemani aku di sini”, tanyanya tiba-tiba.

Lama Via memikirkan permintaannya. Dia baru saja bertemu dengan Agung tapi dia sudah jadi sok akrab dengannya. Tapi tidak tahu kenapa, kepalanya mengangguk. Secara spontan, wajah Agung berubah cerah, seperti malaikat turun ke Bumi.

Percakapan dengan Agung membuat diri Via tenang. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan memberi mantera motivasi dalam hidup. Pengalaman hidupnya untuk bertahan hidup terus mengeliling setiap detik otak Via. Keberadaan keluarga menjadikan semangat untuk memberikan kebahagian di sisa kehidupan. Via mulai menyadari penting keluarga bagi dirinya.

***

“Kamu tidak peduli dengan keluarga, setiap hari kamu hanya kerja dan kerja tanpa peduli dengan keluargamu”, teriak mama Via menyambut pagi.

“Kamu juga tidak peduli, kamu sebagai seorang Ibu harusnya berada di rumah bukan jalan-jalan tidak jelas”, teriak Papa Via.

Suara teriakan menyambut pagi seperti hal biasa yang di rasakan di rumah Via. Dia hanya terdiam dan mendengarkan setiap kata-kata kasar yang keluar dari orang tuanya. Rutinitas sekolahnya tidak pernah di ceritakan kepada orang tuanya. Apa pun masalah yang terjadi, orang tuanya tidak mau ambil pusing. Bila ada pertemuan di sekolah, Pak Khodir yang selalu datang mewakili orang tuanya. Via lebih merasakan kasih sayang Bi Inah daripada mamanya.

“Bi, nasi gorengnya sudah masak ?”.

“Bentar lagi Non”,

“Hari ini mama dan papa bertengkar lagi yan Bi. Kapan ya rumah ini bisa jadi Istana seperti rumah teman-temanku”, katanya mengeluh

“Sabar ya Non”.

“Kadang Via berpikir, mengapa Via di lahirkan  tanpa merasakan ketenangan dan kasih sayang sebuah keluarga”.

Air mata Via menetes bertabur di pipi putihnya. Pelukan Bi Inah sedikit menenangkan rasa kepedihan di hatinya. Luka yang sudah terlanjur terbuka lebar di lubuk hati, tidak mampu lagi bertahan.

“Bi, Via lebih bahagia bila Via bisa menjadi anak Bibi karena Via bisa merasakan kehangatan seorang Ibu”, katanya dengan air mengalir.

Tiiit… tiiit… klason sepeda motor berbunyi menghentikan tetesan air mata. Bi Inah melepaskan pelukannya dan melihat ke arah jendela. Via mengikuti langkahnya dan mengeluarkan kepala di Jendela. Sesosok cowok berpakaian seragam sekolah sedang melihat perkarangan rumah Via dengan sekali-sekali membunyikan klason sepeda motornya.

“Teman Non Via ya?”, tanya Bi Inah heran.

“Bukan Bi”.

“Vi…a”, panggilnya memberhentikan perbincangan dua insan itu.

“Agung”, kata Via heran.

Secepat kilat Via mengenakan seragamnya dan membiarkan pertengkaran kedua orang tua terus berlanjut. Rasa senang berkecambuk di hatinya. Sudah lama ia menginginkan seseorang bisa menjemputnya layaknya seorang ayah yang menjemput anaknya di sekolah.

“Agung”, panggil Via dengan suara lantang.

“Yuk”, ajaknya.

Tanpa pikir panjang, Via menaiki si hitam sepeda motornya. Dalam hitungan detik, mereka telah meninggalkan rumah berkawasan  elit itu. Keheningan terjadi di antara mereka. Detak jantung Via seakan memberi tanda kebahagian yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

“Via, maafkan aku yang telah menjemput kamu tanpa meminta persetujuan kamu dulu”, kata Agung memulai pembicaraan.

“Tidak apa-apa kok. Tapi aku juga mau minta maaf karena kamu mendengarkan hal tidak enak di rumahku”.

“Ehm… maksud kamu, pertengkaran Ayah dan Ibumu”.

“Ya”.

“Tidak apa-apa kok. Aku berharap kamu bisa mengambil hikmah dari semua yang terjadi di keluargamu”.

“Terima kasih”, jawab Via tersenyum.

Perjalanan begitu terasa dekat bagi Via. Rasa ingin mengulang dan memutar waktu terus menghantui setiap pikirannya. Tidak tahu sejak kapan, hubungan mereka berlanjutan menjadi sebuah kasih sayang seorang pemuda kepada seorang gadis.

“Via”, panggil Rara saat dirinya menunggu Agung di tempat parkir.

“Pagi”, salam Via.

“Pagi-pagi sudah panas begini. Rasanya bunga-bunga bertebaran di sekelilingku”, katanya menyindir.

“Apaan sich”,

“Ha… ha… akhirnya sahabatku yang tomboy ini menemukan belahan jiwa. Dan cap bahwa kamu lesbian telah sirna”, jelasnya.

Via hanya berdiam terpaku melihat kelakuan sahabat kecilnya ini. Sedikit, luka di hati mulai tertutup. Keceriaan Rara dan kedatangan Agung di kehidupannya bagaikan obat ampuh untuk menyembuhkan luka.

“Yuk Vi, kita ke kelas”, ajak Agung tanpa memperhatikan  Rara di sampingnya.

Tanpa banyak berkata, Via mengikuti langkah Agung dari belakang. Punggung Agung begitu bidang seperti manusia yang tidak ada penyakit.

“Via, nanti pulang dengan aku ya!”, ajak Agung.

Via mengangguk kecil lagi. Dirinya sudah bisa menerima orang lain dalam kehidupannnya. Perasaannya tumbuh mmenjadi sebuah arti yang selalu di alami para remaja normal. Detak jantung yang belum pernah ia rasakan, seakan berdetak di saat-saat bersama Agung. Kadangkala, Via merasakan rasa sakit yang asing baginya, saat Agung berbicara akrab dengan cewek-cewek yang mendekatinya.

***

“Via…”, teriak Rara melengking.

“Ada apa? Jangan teriak-teriak di kelas”.

“Via, Agung pingsan di kelas. Sekarang dia di bawa ke rumah sakit Kencana Pusat”, ujar Rara mengebu-gebu.

“Apa?”, katanya terkejut.

Tangan via bergetar dan seakan membeku. Otaknya tidak lagi dapat berpikir dengan jernih. Pelajaran Pak Marwan tidak ada yang menempel di otaknya. Deting bel pulang berbunyi memberi rasa kekhwatiran mendalam. Langkah kaki melaju cepat mengikuti hembusan angin sore. Keringat bercucuran mengiring detak jantung kegelisahan.

“Agung”, panggilnya saat membuka pintu.

“Hai, apa kabar?”

“Baik. Kamu tidak apa-apakan”, katanya dengan nafas yang masih terengah-engah.

“Tidak apa-apa kok. Via, aku mau memperkenalkan kamu ke keluargaku”, ujarnya semangat.

Muka Via mendadak berubah merah. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, dia akan bertemu orang tua Agung. Di samping Agung berdiri seorang laki-laki dan perempuan paruh baya yang kesedihan terpancar di wajah mereka. Via juga merasakan apa yang di rasakan orang tua Agung. Dirinya belum siap untuk di tinggalkan Agung untuk selamanya.

“Pa, kenalkan ini Via, teman yang memberikan senyuman di wajah Agung”, katanya.

“Pa kabar Om”, kata Via ramah.

“Baik. Om sangat berterima kasih kepadamu karena kehadiranmu di samping Agung memberi semangat untuk menjalani hidup ini”, ujarnya tersenyum.

Wajah kedua orang tua Agung mengingatkan Via kepada orang tuanya. Dia merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tidak bisa dia rasakan sebelumnya. Keberadaan orang tua Agung membuat dirinya mengerti pentingnya orang tua. Orang tua bukan hanya memberikan materi tetapi memberikan kesejahteraan dalam sebuah keluarga.

“Via, tante dan Om mau pulang ke rumah untuk mengambil pakaian ganti Agung. Apa kamu mau menemani Agung sebentar?”, tanya mama Agung penuh hati keibuan.

“Mau kok tante”, jawabnya tersenyum lebar.

“Maafkan tante karena merepotkan kamu”, katanya sembari pergi meninggalkan Via dan Agung di ruang penuh bau obat itu.

Lama keheningan melanda di antara mereka. Wajah Agung yang tertidur pulas mengerakkan hati Via. Dia membelai kepala.

“Eh… Via”, kata Agung terkejut dari bangun tidurnya.

“Maaf membangunkanmu”.

“Tidak apa-apa kok. Mama dan Papa ke mana Vi?”.

“Oh… mereka sedang pulang ke rumah. Katanya mau ambil pakaian ganti kamu”.

“Terima kasih ya Via. Kamu mau menemani aku”.

“Tidak apa-apa kok”, ujar Via membalas perkataanya.

“Apa kamu tahu Via, hidupku tidak akan lama lagi. Kata dokter kanker di otakku sudah tidak bisa di sembuhkan lagi. Kemungkinan hidupku hanya lima bulan lagi”, ujarnya.

“Apa kamu tahu Agung, kamu memberi sebuah keteguhan dan semangat hidup untukku. Keluarga yang tidak pernah utuh membuat lubang di hati, tapi kamu telah menutup lubang itu”, kata Via meneteskan air mata.

“Via, aku ingin kamu terus berada di sampingku dan terus mengingatku walaupun kematian memisahkan”,kata Agung sembari memeluk Via.

Via tahu, hubungan dengan Agung akan mengalami perpisahan untuk selamanya. Tetapi dia mencoba untuk menjadi semangat hidup bagi Agung. Baginya, Agung bagaikan malaikat yang memberikan kecerahan untuk jiwa yang terperangkap di kegelapan.

***

Kegelapan malam semakin larut meninggalkan sore nan indah. Keributan yang biasanya terdengar di kala malam datang, tidak terdengar lagi oleh Via. Rumah begitu sunyi dan sepi. Tidak ada tanda-tanda manusia hidup di rumah mewah itu.

“Via, kenapa kamu pulang malam”, tanya Papa Via di ruang keluarga.

“Via dari jenguk teman yang sakit, dan Via kelupaan waktu”,ujarnya.

“Via, mama dan papa ada yang ingin di bicarakan”, kata mama Via serius.

Tanpa di perintah, Via langsung duduk di dekat orang tuanya. Pikiran Via menerawang apa yang akan di bicaraan dengannya. Namun pikirannya belum juga bisa hilang dengan keadaan Agung.

“Via, mama dan papa akan bercerai. Jadi kamu mau ikut siapa?”, kata papa Via tiba-tiba.

Seperti rasa di tembak petir, air mata Via mengalir. Perkataan yang tidak pernah ia inginkan. Keluarga yang  selalu ia harapkan, seakan hanya sebuah mimpi yang tidak bisa di wujudkan. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut..

Tiiit….tiiit…. bunyi handphone Via dari saku seragamnya. Tertulis nama Agung yang memanggil.

“Hallo Via, ini mama Agung. Apa kamu bisa ke rumah sakit. Agung merasakan  kesakitan. Tante tidak tega melihatnya. Apakah kamu bisa datang untuk menenangkanya?”, kata mama Agung memohon.

“Baiklah Tante. Via akan datang limabelas menit lagi”, katanya sembari menutup handphonenya.

Tanpa berpamitan dengan kedua orang tuanya, Via pergi ke rumah sakit melalui jalan yang penuh gelap. Pikirannya gelisah dan khwatir dengan keadaan Agung. Nafasnya terengah-engah saat berlari menuju ruang inap Agung. Terdengar isak tangis seorang wanita. Via segera membuka pintu. Wajah Agung terlihat pucat dan kaku. Tidak terlihat lagi senyum di wajah dan tawa mengelegar dari mulutnya. Tetesan air mata Via mengalir di keheningan penuh isak tangis itu.

“Via, Agung telah meninggalkan kita untuk selamanya, dia telah abadi di sisi Tuhan”, seru mamanya sembari memeluk Via.

Dia tidak akan pernah kembali. Kenangan bersama seperti buah apel beracun, enak di lihat tapi menyakitkan.

seminggu setelah kepergian Agung, senyuman di bibir Via tidak terlihat lagi. Wajah sedih terus terpancar di wajahnya. Kedua orang tunya tidak peduli.. Mereka sibuk dengan penceraian yang akan mereka lakukan. Malam sunyi dan sepi, mengosongkan pikiran Via dalam kesedihan. Kematian yang tidak di inginkan orang lain, menjadi mimpi dan harapan bagi dirinya. Air mata di pipi seakan tidak bisa berhenti mengalir. Seseorang yang menjadi semangat hidup dan motivasinya telah pergi jauh ke dunia kekal abadi. Orang tua yang menghangatkan dirinya, tidak pernah ia rasakan.

“Agung, hidupku tidak ada artinya tanpamu. Orang tuaku tidak akan pernah peduli padaku. Walaupun aku mati, mereka tidak akan bersedih. Biarlah aku pegi meyusulmu, karena itulah yang mereka harapkan. Aku ingin kita tetap bersama”, katanya.

Pisau perlahan-lahan memotong urat nadi di tangan kanan Via. Darah merah mengalir  deras. Matanya tidak bisa lagi melihat dengan jelas di sekelilingnya. Di rasakannya seseorang memegang tangan kanannya. Tangan yang begitu ia kenal dan di rindukan selama ini.

“Agung”, kata Via perlahan.

Senyum di bibir Via terpancar cerah. Tidak ada rasa penyesalan terlihat di wajahnya. Beban yang di tanggung seakan mencair dan menghilang. Dia telah memilih jalan yang di anggap mampu membuatnya melupakan segala masalah dan menuju dalam kebahagian bersama orang yang di sayanginya.

-Selesai-

By. Sri Siska Wirdaniyati – khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s