Abu Bukan Abi

Tangan yang pernah menggengam jemariku, kini telah pudar. Beku dan sepi  terasa di tinggal sang matahari itu. Dia meninggalkan rasa sayang yang tidak terlupa. Sampai kebenaran sang surya memberitahu bahwa dia hanya angan masa lalu.

Tritt… triit… trit… bunyi ponsel membangun tidur yang nyenyak. Aku angkat selimut dari tubuh sembari meraba-raba benda seperti kotak kecil itu.

“Hallo, siapa ini?” ujarku.

“Laura, cepat jemput aku di bandara sekarang”, jawabnya di ujung sana.

“Eh… jangan menyuruh seenaknya dong!”

“Laura, Aku Abi. Aku sudah rindu banget dengan kamu nih!”, katanya manja.

“Apa?, aku akan segera ke sana”, ucapku terkejut.

Dia telah kembali, ucapku dalam hati. Seorang cowok yang telah mengisi hati walau jarak memisahkan. Abi, nama yang sudah lama tidak di ucap dengan dekat. Kini dia telah sedekat hati yang telah lama berbunga.

Tidak sabar rasanya ingin bertemu. Detak jantung berdegup kencang seakan ingin meledak saat pangeran hati telah memegang. Tidak aku hiraukan ucapan mama untuk menyuruh sarapan. Tidak di hiraukan bagaimana keadaan pakaianku.

Dalam perjalanan, aku berangan – angan tentang pertemuan dengannya. Begitu banyak tanya yang ingin terlontar dari mulut ini. Begitu banyak sentuh yang ingin di tunjukkan kepadanya. Hingga hati tak mampu untuk behenti berdetak.

“Hai”, panggil seorang yang sudah tidak asing lagi.

“kamu sudah berubah. Jauh lebih tinggi daripada aku.”ucapku sembari mengukur tubuhku dengan tubuhnya.

“Ehm… iya dong. Aku tidak mau kalah dengan pacarku ini”ucapnya tersenyum.

“Kamu masih tetap angkuh ya!”

Dia tertawa kecil. Tangannya memenggengam tanganku menuju ke parkiran. Cinta yang sudah berjalan dua tahun ini, mungkin tidak akan terpisah lagi. Dia telah berjanji untuk tetap di sampingku selamanya.

***

Malam terang bulan menemani kebersamaan dengannya. Aku tidak lagi sendirian melewati malam yang sunyi sepi. Pangeran hati telah mengisi kekosongan yang sudah lama beku.

“Laura, seandainya terjadi sesuat padaku, apakah kamu akan tetap menyayangimu?”, tanyanya tiba-tiba.

“Maksud kamu apa?”

“Tidak ada maksud apa-apa kok!”,

Matanya tidak mampu menatapku. Dia seperti menyembunyikan rahasia besar. Aku tidak berani untuk bertanya, mungkin karena keinginan untuk tetap seperti ini. Di dalam kebersamaan yang telah lama tersingkirkan jarak.

“Kamu tidak akan pulang ke Australia-kan?”, tanyaku penuh kepastian.

“Aku akan tetap di sisi dan di hatimu”,ujar sembari memelukku.

Kehangatan dari tubuhnya bisa di rasakan. Sehangat hati saat menjalani hari-hari dengannya. Namun, kehangatan yang dia berikan hanya palsu belaka. Tidak pernah menyangka cobaan cinta ini terlalu berat. Hingga hati tak mampu lagi untuk membuka gerbang kecerahan.

“Kamu pembohong! Kamu saudara kembar Abi”,ujarku marah.

“Laura, dengarkan aku! Banyak alasan mengapa aku lakukan ini”, katanya menjelaskan.

“Aku tidak butuh penjelasmu. Buku ini sudah cukup menjelaskan. Sekarang, aku ingin melupakan Abi dan juga kau Abu, kamu…”,

“Abi telah meninggal. Penyakit Leukimia telah merengut nyawanya”, ucapnya memotong.

“Apa? Itu tidak mungkin”, kataku terkejut dan tidak dapat menghentikan air mata.

Pangeran yang dulu ada di hati, telah pergi jauh. Bukan salahnya, dan juga bukan salahku. Semua adalah takdir yang tidak dapat di ubah. Walaupun sang malaikat telah di bujuk.

Separuh hati telah hilang. Pergi ke tempat yang tidak terjangkau. Pikiran kacau balau tidak tentu arah. Kesendirian tanpanya telah menghilangkan akal sehat. Terbujuk oleh rayuan setan untuk menyusulnya. Pisau di tanganku menjaldi pilihan dalam hidup. Pisau sedikit demi sedikit menyayat pergelaran tangan. Darah berserakan di karpet putih kamarku. Tidak ada rasa sesal dari hati. Mata mulai kabur karena kehabisan darah. Kesadaranku tidak terkontrol lagI.

***

Perlahan-lahan mata mulai terbuka. Ruangan putih terpacar di setiap sisi. Bau obat-obatan  yang menyusuk hidung memberitahu sesuatu. Aku bukan berada di surga ataupun neraka. Tuhan tidak mau mencabut nyawaku. Dia memberi kesempatan untuk memperbaik banyak hal tentang cinta, kasih sayang, dan arti hidup

“Laura! Kamu baik-baik saja”, ucap Abu khwatir.

Aku mengangguk kecil. Wajahnya mengingatku kembali pada Abi, seorang yang tak mampu untuk  di lupakan. Dia yang menemani di saat kesendirian di tengah pertengkaran orang tuaku. Dia yang peduli akan kehidupanku. Dia penyemangat hidup di antara perselisihan orang tua yang tidak di harapkan.

“Laura, aku tahu kamu menyayanginya dan dia pun menyayangimu”, ucap Abu sembari memberi surat.

Aku tahu, Amplop putih berbentuk kubus itu akan memberikan semua kebenaran tentangnya.  Perlahan mulai aku buka. Selembar kertas dengan kata-kata  darinya tertulis jelas.

Dear Laura,

Laura, apa kabar? Aku tahu kamu marah padaku karena aku jarang pulang ke Idonesia. Begitu banyak alasan yang tidak mampu aku ceritakan. Aku takut kamu akan meninggalkanku.

Selama ini aku merahasiakan saudara dan juga penyakitku. Aku memiliki saudara kembar bernama Abu Indrawijaya Handoyo. Dia tinggal di Australia bersama ibuku. Lalu, satu lagi tentang hidupku yang aku rahasiakan bahwa kau mengindap penyakit leukemia stadium akhir. Hidupku tidak akan bertahan lama. Kata dokter hanya beberapa bulan lagi.

Aku ingin tetap hidup melalui hari-hari denganmu. Maaf bila aku menyimpan semua rahasia ini. aku tidak ingin menjadi simpati bagimu. Aku ingin di cintai seperrti yang lainnya.

Laura, terima kasih kamu telah menjadi semangatku. Hati yang telah kamu berikan untukku, aku kembalikan padamu. Bukan karena aku tidak menyayaimu, tapi aku ingin memberikan kebebasan. Aku sayang kamu, Laura.

Air mata menetes deras membasahi lembaran itu. Sang pangeran telah pergi. Dia meninggalkan kenangan yang tidak akan terlupakan, walau waktu terus berjalan dan menungggu.

***

Satu tahun telah berlalu sejak rahasia hidupnya terbongkar. Rasa sayang untuknya belum dapat terlupakan. Namun, kini aku butuh seseorang untuk menopang tubuh rapuh ini. sesorang yang akan memberikan cahaya di hati kelam.

Hari ini, aku datang ke pemakamannya. Ada sesuatu yang ingin di minta. Bukan keinginan semu seperti dulu, tapi kepastian cinta antara aku dan seseorang.

“Abi, satu tahun sudah kepergianmu. Kamu akan tetap di hatiku. Namun, aku butuh seseorang yang mampu memberiku motivasi”, ujarku mengusap batu nisan.

Air mata belum juga mampu tertahan. Seseorang yang mengisi hatiku tidak mampu menghapusnya dan kenangan itu. Cinta Abi seperti madu yang sangat di butuhkan lebah.

“Abi, aku ingin memperkenalkan seseorang. Dia adalah Abu Indrawijaya Handoyo, seseoarng yang memenuhi hati ini sekarang. Aku tahu, kamu pasti sedang tersenyum  dan menrestui hubungan ini”.

-Selesai-

By:Sri Siska Wirdaniyati – Khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s