Pesona Lembaran Buku

tumpukan-buku-warna-warni2

Buku adalah pedoman kehidupan yang memiliki pesona luar biasa

Tik… tik… tik…. Bunyi rintik air hujan turun  ke planet bumi nan indah. Menyembunyikan cahaya matahari pagi yang membangunkan tidur lelap. Cuaca dingin seolah membalut tubuh kecilku. Aku segera melangkah kaki ke kamar mandi. Tiba-tiba, langkah kaki terhenti ketika sebuah buku terbuka lebar di atas tempat tidur. Pesona yang terpancar dari setiap lembaran seolah takdir penuntun masa depan. Setiap paragrafnya menceritakan seluruh kehidupan dunia.

Aku telah berwisata ke seluruh Negara dunia tanpa harus mengeluarkan banyak uang. Sebuah benda dengan berbagai lembaran membawa otak untuk berkunjung ke Negara asing tersebut. Aku bisa mempelajari sejarah, kebudayaan, dan sosial tanpa harus beranjak dari tempat favorit.

Setiap lembaran yang terukir di dalam tubuh segiempat itu, telah menepis kegundahan dan kegelisahan di dalam hati. Aku jatuh cinta dalam kharismanya. Dia membuat hati terpesona dengan lembaran-lembaran tipisnya. Kata-kata terindahnya menjatuhkan prasangka buruk terhadap kebahagaiaan yang tak kunjung datang.

“Iwan, bangun!”, ucap Tante Maria dari balik pintu. Aku segera melangkah menuju ke kamar mandi. Air seperti batu es tidak di pedulikan karena pekerjaan yang paling berharga telah menunggu dengan setia. Pekerjaan mulia yang selalu di inginkan semua insan.

Sebuah bangunan berusia dua puluh tahun menjadi tujuan utama. Pagar yang berkarat menunjukkan kejayaan bangunan tersebut. Kata “Perpustakaan Daerah” terhampar  di kehidupanku seolah fenomena alam yang tertanam kuat di dalam hati. . Gagang pintu  merupakan bukti kesetiaan terhadap bangunan itu. Buku peminjaman perpustakaan menjadi aktivitas untuk jemari kecilku. Kursi di depan meja peminjaman seolah kasur kedua dalam mimpi terindah. Tempat inilah yang memberikan rasa semangat untuk menjalankan hidup.

“Iwan, kamu semangat sekali”, kata Pak Kepala Perpustakaan menyambut kedatanganku.

“Tidak juga, Pak. Saya seperti biasanya”,

“Iwan, ambillah ini”, ucap Pak Kepala Perpustakaan sembari menyerahkan sebuah amplop putih.

“Ini apa, Pak?”,

“Kamu sudah bekerja di sini hampir tiga tahun. Dan ini adalah gaji yang selayaknya kamu dapatkan”,

Aku terdiam sembari memandangkan amplop itu. Aku tidak membutuhkan gaji tersebut. Kebutuhan hidup telah terpenuhi dengan usaha menjadi pemilik perusahaan penerbit. Tiga tahun yang lalu, aku melamar kerja di perpustakaan ini. Aku ingin membaca banyak buku agar menambah wawasan dan memberikan memberikan manfaat pengetahuan. Buku, sebuah benda yang memiliki arti kehidupan yang tinggi. Dia telah mencuri hati dan memciptakan ketenangan.

“Maaf Pak, bukan maksud saya untuk menolak. Namun saya ingin menepati syarat bahwa saya tidak akan menerima gaji”,

“Kalau begitu, Bapak akan menyumbangkan gaji kamu ini ke mesjid”, katanya dengan tersenyum.

Pekerjaan penjaga perpustakaan merupakan pekerjaan paling indah dalam hidupku. Di tempat ini, aku bisa berwisata ke seluruh negeri. Menjelejahi sejarah-sejarah dunia. Menikmati kisah-kisah bermakna yang jarang tampak di kehidupan sehari-hari. Aku sungguh telah jatuh cinta pada setiap kata dalam lembaran buku. Mereka sangat mempesona dengan serpihan tinta-tinta hitam.

Buku, sang ilmuwan yang tidak tertandingkan. Komputer dan alat elektronik canggih tidak mampu mengalahkan pesonanya. Seluruh umat manusia tidak bisa hidup tanpanya. Dia adalah Bapak ilmu pengetahuan dunia.

Tiga tahun yang lalu, aku adalah seseorang laki-laki dengan wawasan yang  rendah. Aku selalu menjadikan buku-buku sebagai barang tidak berharga. Harta yang berlimpah menumbuhkan rasa kesombongan. Namun, sebuah kenangan pahit memberikan pengaruh penting untuk hidupku. Tanpa di sadari, aku kembali ke dalam kenangan yang merenggut nyawa adikku.

“Pagi, Ida”, ucapku dengan membuka pintu kamar. Dia adik perempuan yang sangat berarti dan selalu kesepian. Ayah dan Ibu sibuk dengan pekerjaan mereka, Kami berdua di titipkan ke rumah Tante Maria, adik perempaun dari Ayah. Ida tidak beruntung seperti diriku. Dia memiliki penyakit jantung yang di derita sejak kecil. Kehidupannya selalu di temani oleh bangunan putih dengan bau menusuk dari obat-obatan.

“Pagi juga, Kak”, ucapnya sembari menutup buku yang sedang di baca.

“Kamu sedang membaca apa?”tanyaku.

“Hanya sebuah buku  remaja”, katanya sembari menyembunyikan buku tersebut ke dalam selimut. Aku sedikit binggung atas perlakuaannya. Namun aku tidak mempedulikan hal tersebut. Aku ingin Ida menikmati sisa kehidupannya

Hampir setiap hari aku mengunjungi Ida di rumah sakit. Dan setiap hari pula aku melihatnya membaca buku yang sama. Buku dengan cover berwarna merah muda. Aku tidak bisa melihat dengan jelas judul buku tersebut. Dia selalu menyembunyikan buku tersebut. Buku itu seolah membuat hati terikat untuk membacanya. Namun aku tidak berani untuk bertanya apalagi meminjamnya karena benda itu sangat berharga untuknya.

Tuhan sangat menyayanginya. Sang pencipta telah memanggil untuk menghadap-Nya dan memberikan buku yang tidak ada di dunia. Saat hari kepergiannya, air mata tidak bisa berhenti untuk menetes. Adik yang selalu memberikan senyuman untukku telah pergi ke alam surga. Tiba-tiba aku teringat tentang buku tersebut. Buku yang selalu menemani di sela-sela penantian kematian.

‘Wisata, Bahagia, dan Wawasan tinggi’ tertulis di depan covernya. Beberapa kata yang seolah memusatkan otak untuk membacanya. Lembaran pertama terbuka. Sebuah kisah motivasi yang sangat mengharukan. Seseorang pahlawan yang berjuang demi negaranya. Aku terus membuka lembaran tersebut hingga lembaran terakhir.  Kata berbalut tinta itu seolah menghanyutkan diri ke dalam sebuah antariksa dunia.

Selama dua hari aku tidak pernah beranjak dari tempat tidur. Buku peninggalan Ida mengikat erat pada tubuhku. Kisah-kisah indah dan mengerikan dalam buku tersebut memberikan manfaat baik untuk otak keangkuhanku. Perlahan-lahan, aku mulai membaca buku yang lain. Dalam satu hari, aku bisa membaca berbagai buku. Aku seperti kerasukan setan buku yang menggoda hati.

“Permisi Kak. Saya mau meminjam buku ini”, ucap seorang gadis dengan memberikan buku tersebut. Aku terbangun dari kenangan masa lalu. Peristiwa pahit telah berlalu dan menjadi motivator dalam kehidupanku.

“Ada apa?”,

“Saya mau meminjam buku ini”, katanya sembari memberikan dua buah buku berjudul ‘Hutan Belantara Dunia’ dan ‘Biografi Soekarno’

“Dengan membaca buku, kita akan mengetahui banyak kehidupan masa lalu. Membaca buku memiliki banyak manfaat yang di butuhkan dalam kehidupan sehari-hari”, kataku dengan tersenyum.

“Terima kasih banyak”, ucapnya sembari meninggalkan diriku.

Aku memandang kepergiannya dengan senyum lebar. Aku yakin dia telah menemukan pesona setiap lembaran buku sama seperti diriku dan Ida. Pesona terindah yang tidak tertandingi oleh benda-benda canggih dunia. Buku, dua suku kata yang membuat hati menjadi tenang. Mencerdaskan otak untuk menjadi manusia berwawasan tinggi. Dia adalah kunci bagi orang-orang sukses.

-Selesai-

By: Sri Siska Wirdaniyati-khai purple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s