Tidak Ingin sakit

“Uhuk… uhuk… uhuk…”, suara batukku mengelegar.

Sudah dua tahun, tidak tinggal terpisah dari rumah orang tuaku. Di pulai Jawa ini, aku mencoba  bertahan demi mengapai cita-citaku untuk menjadi seorang dokter. Dan sudah dua hari, aku tidak pergi kuliah. Penyakit pilek dan dendam merambah seluruh anggota tubuh hingga aku harus berada 24 jam di dalam kos. Dan untuk sekian kalinya, aku dalam keadaan sedirian di perumahan ini. Teman-teman kosku sedang melakukan kegiatan sehari-hari mereka, belajar di perguruan tinggi untuk mengapai cita-cita.

Aku tidak ingin terus sakit seperti ini. Aku ingat, ibu selalu memberikan teh jahe hangat untukku bila sedang sakit. Tidak perlu berpikir terlalu lama, aku menuju dapur dan membuat segelas teh tersebut. Beberapa menit berlalu, akhirnya segelas air berwarna coklat kekuningan telah terhidang. Namun, rasa minuman itu tidak seperti buatan Ibu. Ada yang beda dari teh tersebut. Padahal aku sudah membuatnya sesuai  prosedur. Tanpa terasa, pikiranku terbang jauh dan kembali pada suasana rumah tempat kelahiran.

Gambar

Pagi ini, tubuhku sangat menggigil. Tubuh tidak mau beranjak dari kasur empuk berukuran besar tersebut. Namun, aku tetap berusaha untuk bangkit dari tempat tidur dan beranjak menuju ke kamar mandi. Seperti dugaanku, tubuhku tidak mampu untuk menopang lagi tubuh ini. Aku terkulai lemas di depan pintu kamar mandi.

“Andin, kamu tidak apa-apa?”, Tanya Ibu dari pintu kamar.

Aku tidak menjawab. Tubuhku sudah tidak bertenaga lagi. Aku benar-benar dalam kondisi yang sangat lemah bahkan untuk berdiri saja, aku tidak mampu. Ibu segera berlari menuju ke arahku. Raut muka menunjukkan khawatiran yang sangat tinggi.

Setiap kali aku sakit. Ibu pasti selalu menemaniku sepanjang hari. Pekerjaan kantor dan rumah tangga di abaikannya. Kadangkala, ketika sakit datang menghampiri, aku mencoba untuk berdiri tegar. Aku tidak ingin menjadi beban bagi pikirannya. Aku sayang Ibu.

Ibu merebahkan tubuhku ke tempat tidur. Dia meraba dahiku untuk mengukur suhu tubuh. Wajahnya gelisah. Bibir merah terkatup sangat kuat. Kedua matanya berkaca-kaca. Ekspresi wajah bahagia tidak terlihat lagi.

Menurutku, penyakitku tidak begitu buruk, namun mengapa kegelisahannya sangat besar? Bahkan penyakti ini sering aku terjadi. Dan setiap itu terjadi, Ibu selalu menunjukkan kepedihan yang sangat dalam seolah-olah dia bisa merasakan apa yang aku rasakan.

“Andin, hari ini kamu tidak perlu masuk sekolah? Ibu akan memberitahukan pihak sekolah”, ucapnya.

“Tapi, Bu. Hari ini kelasku akan di adakan ulangan harian matematika”, kataku menolak.

“Biarkan saja”, bantahnya. “Ibu akan membuatkan teh jahe hangat supaya kamu merasa sedikir nyaman”, lanjutnya,

Aku diam tanpa berani untuk mengucapkan kata-kata. Aku tahu, Ibu melakukan hal itu karena sayang kepadaku. Dia berusaha untuk menjaga diriku dengan sekuat tenaga. Cinta kasih dan kehangatan selalu di berikan untukku hingga aku tidak merasakan kekurangan kasih sayang dari orang tua berstatus single parent itu. Sungguh besar cinta Ibu kepada anaknya.

Tidak berapa lama kemudian, Ibu datang dengan membawa segelas teh jahe hangat. Dia menyuruhku untuk minum dengan habis teh tersebut. Hangat. Rasa itu seolah meresap aura penyakit dalam tubuhku. Kesegaran datang dengan tiba-tiba dan membuatku pulih kembali. Inilah kehangatan nyata yang di rasakan dari seolah Ibu. Segelas teh hangat dengan tambahan rasa ihklas dan kasih sayang yang mampu meruntuhkan segala bentuk penyakit. Musim dingin yang menyelimuti tubuhku, kini berganti menjadi musim semi dengan taburan bunga-bunga indah. Sungguh! Teh hangat ibu adalah mantera yang mampu menyembuhkan segala penyakit.

Ibu, dia tidak pernah mengeluh dengan sikapku. Dengan rasa ikhlas dan sayang, dia tumpahkan ke dalam teh hangat ini. Besarnya kasih sayang ibu tidak dapat di gantikan oleh benda apapun di dunia ini. Karena kebahagiaan nyata yang paling besar adalah kehangatan yang di berikan oleh seorang Ibu kepadan Anaknya.

Tanpa terasa, air mata mengalir dari pipiku dan menhamburkan kenangan indah. Aku segera menghapus air mata yang jatuh di kedua pipi dan melangkah menuju meja belajar. Aku segera mengambil handphoneku dan menekan sebuah nama kontak yang aku rindukan itu.

“Ada apa Andin”, katanya ketika mengangkat panggilanku.

“Ibu, engkau telah menjaga dan membesarkanku dengan kehangatan dari kasih sayangmu. Maafkan aku yang kadangkala membuat hatimu sedih, tapi ketahuilah bahwa engkau adalah pelita dalam hatiku. Terima kasih Ibu”, ucapku dengan menetes air mata dengan sangat deras.

– Selesai –

by: Sri Siska Wirdaniyati-khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s