Ungkapkan Kepadanya, Cerpen!

Dengan kata-kata ini mampu menyampaikan perasaan dari hatiku untukmu

Jatuh cinta adalah hal paling indah dalam kehidupan fana ini. Dengan dua kata itu, segala rasa asing selalu datang silih berganti untuk mewarnai dunia hati. Gembira, sedih, cemburu, dan ingin memiliki selalu mengerogoti hati suci setiap insan. Namun, tidak ada yang pernah jera dengan rasa itu. Alasannya sangat sederhana. Setiap kali merasakan jatuh cinta, tubuh seperti melayang ke dunia terindah bagaikan surga.

Matahari bersinar sangat cerah. Cahayanya membakar kulit sayuku dan Aku mengeluh sesaat. Aku tidak tahan dengan kehangatan sang surya yang membakar tubuhku. Dia seolah meletakkan diriku ke dalam neraka yang sangat panas. Tiba-tiba, tubuhku merasakan hawa yang sejuk. Kedatangan gadis pujaan hati membuat diri lupa dengan kekesalan beberapa menit yang lalu. Aku seolah jatuh ke dalam tumpukan gunung salju yang menyegarkan tubuhku.

“Hai Lily, kamu mau ke mana?”, ucapku mencoba mengambil perhatiannya.

Dia diam dan memandangku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia seolah tidak percaya bahwa aku sedang menyapanya. Lily, satu-satunya gadis yang telah mencuri hatiku dari peti yang terkunci rapat. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku terpesona oleh kegigihan dalam belajar. Aku terpana oleh kecantikan dari balik kacamatanya. Aku terkesima oleh kepribadian diri dari balutan jilbabnya.

“Aku mau ke perpustakaan. Ada apa, Wan?”, jawabnya ramah.

Aku menggelengkan kepala. Setiap berada di dekatnya, aku selalu salah tingkah. Padahal pada teman-teman perempuanku yang lain, aku selalu bersikap cool dan menjaga image kerenku. Namun bila berada di hadapannya, Semua image itu hancur.

Aku mulai berpikir untuk menjadi dirinya sebagai milikku. Rasa sayang ini sudah tumbuh semakin besar. Rasa itu sudah tidak dapat di bendung lagi. Aku ingin dirinya menjadi princess-ku yang selalu menerangi kegelapan hatiku.

***

Matahari pagi sangat cerah daripada biasanya. Tetesan embun pagi yang menyejukkan dapat aku rasakan. Aku berdiri pada tiang dinding pagar sekolah dengan hati yang berdetak sangat cepat. Aku ingin melakukan pendekatan kepada gadis yang sudah menawan hatiku itu.

Beberapa menit kemudian, Andin datang dengan menggunakan sepeda tuanya. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan jilbab putih di kepalanya. Aku terdiam sesaat dengan menatap kecantikan yang luar biasa. Aku mulai mendekatinya. Mensejajarkan gerak sepeda motorku dengan gerak sepedanya.

“Hai”, sapaku.

Dia mengangguk kepala lalu melangkah pergi. Dia berlalu tanpa pernah membalikkan wajahnya. Aku menghela nafas. Dia sangat susah untuk di dekati. Namun, aku tidak mau menyerah. Lily, dia adalah gadis yang akan menjadi belahan jiwaku. Aku akan mengorbankan segalanya untuk dapat memiliki gadis berusia 17 tahun tersebut.

Pendekatan terus berlanjut. Aku datang ke perpusatakan sekolah, sebuah tempat yang tidak pernah aku datangi sebelumnya. Kepalaku celingak-celinguk mencari sosok gadis pujaan hati. Akhrinya, aku menemukannya. Dia terkejut. Dia memandangku dengan tatapan tajam seolah dia ingin aku beranjak dari tempatku.

Sorry! Aku boleh duduk di sini?”, ucapku cepat.

“Boleh kok, Awan. Tapi ada gerangan kamu ke sini, biasanya kamu selalu nongkrong bareng teman-teman kamu di kantin”, katanya tersenyum.

“Tidak ada apa-apa kok. Aku hanya ingin mencari suasana baru. Lalu, kamu sedang baca buku apa?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku sedang membaca buku kumpulan cerpen. Aku ingin menjadi penulis terkenal”, kata Lily semangat.

Lily kembali melanjutkan bacaannya. Dia sangat serius. membaca. Bibirku tersenyum. Aku mengetahu satu hal yang baru tentang dirinya.

“Kamu suka membaca buku?”, tanyaku.

Dia menggangguk dengan senyuman indah. Perlahan, Lily beranjak dari tempat duduknya. Kami menuju ke bilik Sastra. Dia mengambil sebuah buku berjudul “Asyiknya Memciptakan Cerpen” dan memberikan kepadaku. Tanpa banyak bicara, dia pergi meninggalkan diriku dengan beribu tanya.

***

Malam semakin larut. Mataku tidak mau tertutup. Aku terus memikirkan perbuatan Andin yang memberiku sebuah buku itu. Aku mulai membuka lembaran demi lembaran. Aku terlena dengan isi buku itu. Aku segera bangun dari tidurku dan duduk santai pada kursi belajar. Aku mengambil selembar kertas dan mengoreskan beberapa kata dalam lembaran itu. Tanpa sadar, aku telah menyelesaikan sebuah rangkaian kata-kata. “Mata hatiku untukmu” itulah judulnya. Kemudian, aku mengambil selembar amplop biru dan memasukkan lembaran tersebut. Perlahan, aku kembali ke tempat tidur dan tertidur dengan nyenyak.

Pagi sekali aku datang ke sekolah. Aku segera menuju ke meja Andin. Aku meletakkan amplop itu di atas mejanya dan berharap dia suka dengan cerpen pertamaku itu. Beberapa menit kemudian, dia datang.

“Cerpen? Mata Hatiku Untukmu”, ucap Andin binggung sekaligus senang.

Lily memandangku. Dia tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku tidak menyangka bahwa cerita pendek ini akan membawaku lebih dekat kepadanya. Aku tidak mau puas hanya sebatas itu. Aku mulai menciptakan berbagai macam cerpen dengan kategori yang berbeda. Cinta, persahabatan, horror, dan komedi telah aku ciptakan khusus untuknya.

Aku dan Lily semakin dekat. Hubungan kami lebih dari teman namun tidak sebagai kekasihnya. Aku masih menunggu waktu yang sangat tepat untuk menyatakan cintaku. Aku ingin Andin sebagai gadis terakhir yang mengisi hatiku.

“Lily, selamat ulang tahun ya?”, ucap Jesika, teman sekelasku.

“Ya, terima kasih ya”, ucap Lily ramah.

Aku terkejut. Aku tidak tahu bahwa hari ini adalah hari istimewanya. Aku belum menyiapkan kado untuknya. Tiba-tiba,  ada sebuah ide yang terlintas dalam benakku untuk memberi sebuah kado dadakan yang istimewa. Aku segera berlari ke dalam perpustakaan dan duduk di pojok rauangan itu. Aku mengambil selembar kertas dan mulai merangkai kata-kata indah.

Dua jam berlalu, aku masih belum menyelesaikan kado istimewa itu. Aku rela meninggalkan pelajaran sekolah. Aku ingin memberikan kado istimewa itu sebagai rasa sayangku dan juga sebagai ucapan pernyataan cintaku.

Teng…teng… teng… bel pulang berbunyi. Aku segera berlari dengan sekuat tenaga menuju kelas. Aku ingin cepat memberikan sebuah kado berbentuk cerpen itu.

“Lily, selamat ulang tahun”, ucapku sembari memberikan beberapa lembaran kertas itu.

***

Mataku tidak mau terpejam. Detak jantungku bergemuruh sangat cepat. Aku gelisah dengan hari esok yang akan menghampiriku. Aku menghelakan nafas. Tiba-tiba, suara handphone-ku berbunyi. Dari Lily. Aku segera mengambilnya dan membuka sebuah message.

Rembulan …

Hitam putih

Berkabut dalam perjalanan kehidupan kita

Kadang tampak, kadang gelap

Namun mengapa?

Engkau mengambil hatiku yang belum matang

Engkau menusukku ke dalam cintamu

Engkau menangkapku ke dalam kasih sayangmu

Rembulan …

Sampaikan tiga kata itu

Tiga kata penghubungan hati

Aku sayang kamu

Yes!”, kataku berteriak.

Akhirnya, aku menjadi kekasih pujaan hatinya. Lily menerima pernyataan cintaku. Dia telah menghilangkan abu-abu hubungan di antara kami. Dia telah menjadi kekasihku yang akan menopang kegelisahan hatiku.

-Selesai-

By: Sri Siska Wirdaniyati-khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s