Hantu Sepatu High Heels

Aku menghembuskan nafas yang mulai beku. Kadangkala, tubuh menggigil oleh dingin suhu yang telah di sebarkan oleh embun itu. Pemandangan sawah nan hijau seolah obat pencuci mata dari hiruk-pikuk suasana kota metropolitan. Suara kicaun burung kutilang mencerminkan keasrian desa yang terpencil ini. Akhrinya, perjalanan yang melelahkan telah mencapai tujuan.

Mobil berhenti di sebuah rumah berbentuk sebuah keraton kerajaan. Di setiap dinding rumah terukir kata-kata asing yang belum di ketahui. Andin, Kakakku segera beranjak dari tempat duduk dan menghilang dari pandanganku. Sedangkan Kak Andika telah bersiap-siap menurunkan barang dari bagasi mobil. Di depan pintu rumah, dua laki-laki paruh baya sedang berdiri sembari mengamati kegiatan kami. Wajah mereka seolah tidak mencerminkan rasa persahabatan. Rasa ingin membantupun tidak terlihat dari sorot mata mereka. Hanya sebuah rasa keanehan yang terpancar dari aura dua tubuh kurus tersebut.

“Kak Andika, siapa dua orang yang sedang melihat ke arah kita?”, tanyaku ketika aku berada di sampingnya.

“Aku tidak tahu, Cha. Mungkin mereka adalah orang-orang yang hanya ingin melihat keraton itu”, jelas Kak Andika.

“Ya sudahlah, Kak. Aku mau pergi ke mobil”,ujarku sembari meninggalkan kakak laki-laki sulungku itu.

Perjalanan ini belum pernah di rencanakan sebelumnya. Dari sebuah kapsul waktu yang di temukan di kotak rahasia kakek buyut yang membuat aku dan saudara-saudaraku berencana mencari pengalaman baru. Akhirnya, kami tiba pada sebuah desa kecil yang bersih, asri, dan sejuk ini.

Di dalam kapsul itu terdapat sebuah kertas kecil yang berisi sebuah surat cinta  . Setiap kata yang tertulis pada kertas tidak beraturan itu masih teringat di benakku. Sebuah kata-kata indah untuk seorang kekasih tersayang.

12 November 1967, Desa Belitung

Matamu adalah pandangan terindah yang di berikan Tuhan Untukku. Bibirmu adalah pelantara senyum meriah yang tidak tertandingi. Jemarimu adalah sutra terlembut yang ada di dunia. Namun, cinta kita ad…..

Kalimat itu terputus. Aku dan saudara-saudaraku merasa sangat penasaran dengan akhir kalimat tersebut. Selain dari itu, kami juga ingin menyegarkan pikiran setelah belajar dengan keras untuk ujian beberapa bulan lalu.

Papa dan Mama tidak bisa mengikuti liburan ini. Pekerjaan yang menumpuk seolah tidak dapat menggugurkan keteguhan hati untuk menjalani liburan bersama keluarga. Mereka akhirnya melepas aku dan saudara-saudaraku menikmati liburan tanpa kedua orangtuaku.

“Icha, Aulil, Ayo turunkan barang-barang dari bagasi. Pak Marwan sudah datang untuk mengantarkan kita ke rumahnya”, Ajak Kak Andika dan menghilangkan ingatan tentang kata-kata indah tersebut.

Aku segera beranjak dari tempat duduk dan mengajak Aulil untuk turun dari mobil. Namun Aulil tidak mau menuruti perintahku. Dia menggelengkan kepala sembari sorot tajam matanya menuju ke arah rumah keraton tersebut. Tubuhnya seolah menandakan ketakutan oleh orang-orang beringas. Aku memandang ke arah rumah tersebut namun aku tidak menemukan seseorangpun.

“Aulil, ayo turun. Kakak harus membawa barang-barang”, ucapku dengan nada sedikit marah.

Aulil masih juga tidak beranjak dari tempatnya. Dia semakin masuk ke dalam ruangan mobil dan menutup kepala dengan tangannya. Hatiku mulai merasa jengkel. Sebelumnya, dia tidak pernah menolak perintahku. Namun sejak dari pintu gerbang desa hingga tiba pada rumah keraton tersebut, dia tidak pernah mengucapkan satu kata pun. Ekspresi wajahnya terlihat tidak tenang. Ada rasa ketakutan yang menyelubungi tubuh kecilnya.

“Aulil jika kamu turun, nanti kakak belikan es krim coklat”, bujukku.

Aulil masih tidak mau beranjak dari tempatnya. Aku mulai tidak tenang dengan keadaanya apalagi matahari sore sudah menghiasi sore itu. Aku celingak-celinguk agar Kak Andin dan Kak Andika datang menjemput kami. Namun tidak satupun di antara mereka menampakkan batang hidungnya.

“Neng, ada apa? Kok belum masuk ke dalam rumah. Malam sudah hampir tiba?”, ucap salah satu laki-laki yang di depan rumah keraton tersebut. Aku terkejut. Kedatangan laki-laki itu seolah angin yang tidak jelas kedatangannya. Aura laki-laki itupun berbeda dengan pak Marwan atapun orang-orang lain di desa. Ada sebuah aura gelap yang menyelimuti tubuh renta itu.

“Oh, sebentar lagi kami akan masuk, kok pak?”, jawabku ramah.

“Bila malam sudah tiba, sebaiknya kalian harus cepat masuk ke dalam rumah. Sebab banyak pengganggu yang tidak di inginkan akan mengganggu apalagi bila kalian datang ke rumah keraton tersebut”,ucapnya memperingatkan.

“Terima kasih, Pak”, kataku ketakutan sembari membawa Aulil secara Paksa. Dari jauh, laki-laki tua itu selalu memandang setiap langkahku. Matanya seolah tidak pernah berkedip agar aku terlihat olehnya.

***

Liburan ini tidak seperti bayanganku. Bosan. Tidak menyenangkan. Aku dan Aulil hanya bisa berada di dalam rumah. Menonton televisi dan membaca komik. Sedangkan dua kakakku, Andin dan Andika sudah memiliki teman-teman baru. Aku tidak bisa seperti mereka yang pandai dalam bergaul. Sejak dulu, aku selalu seperti ini.

Seperti biasa, malam ini aku menikmati bintang yang tampak jelas terbentang di hamparan langit. Suhu yang dingin tidak membuat diriku beranjak dari ayunan pada pohon jambu ini. Tiba-tiba, aku mendengar suara isak tangisan wanita. Suara yang sangat menyayat hati. Aku mencoba mendengar dengan seksama suara tersebut. Namun suara tangisan itu menghilang. Bulu kudukku mulai berdiri. Ada rasa gelisah dan takut tumbuh di dalam hati. Sekejap, suara tangisan itu datang kembali namun menghilang kembali.

Hatiku mulai ketakutan. Aku segera beranjak dari tempatku dan masuk ke dalam rumah. Saat menginjak pintu rumah, lampu padam. Aku mencoba untuk tenang karena aku merasakan kedatangan seseorang dari arah berlawanan. Dia semakin mendekat. Dekat. Dan semakin dekat.

“Arghhhh….”, teriakku histeris.

“Ada apa Cha?”, kata orang tersebut.

“Kak Andin? “,

“Ya, Cha. Apa kamu melihat Aulil. Sejak tadi Kakak  mencarinya ”,

“Tidak Kak. Mungkin dia sedang bersama Kak Andika”, ucapku.

Kak Andin menggangguk. Suasana kembali hening. Hanya pancaran bulan yang menjadi pelita di malam gelap tersebut. Tiba-tiba lampu hidup, lampu kembali padam. Hidup. Padam. Hidup. Padam. Hampir sepuluh kali lampu dalam keadaan tersebut. Setelah itu, terdengar suara. Seperti suara pukulan antara lantai keramik dengan benda runcing. Aku menggenggam tangan  Kak Andin dengan erat dan begitupula dengan Kak Andin. Kami berdua ketakutan.

“Icha, Kak Andin”, panggil Kak Andika.

“Andika, Kami berada di depan pintu”,jawab Kak Andin.

“Apakah Aulil bersama dengan kalian?”, tanyanya saat tiba di hadapan kami.

“Dari tadi Kakak mencarinya tapi dia tidak kelihatan”, kata Kak Andin mulai gelisah

“Kita harus mencari Aulil. Sejak datang ke desa ini, dia kelihatan sangat aneh dan ketakutan. Sepertinya dia melihat sesuatu?”, kataku.

“Maksud kamu?”,tanya Kak Andika.

“Makhluk halus. Aku yakin dia melihat makhluk halus. Sejak datang ke sini, aku selalu mendengar suara ‘TUK… TUK… TUK…’ dari belakangku. Namun bila aku melihat ke belakang, suara itu menghilang dan kembali lagi saat aku tidak memandang ke belakang. Aku seperti di ikuti, Kak”, ucapku dengan ketakutan.

“Kamu jangan berbicara seperti itu, Cha”,ujar Kak Andin gelisah.

“Kamu harus tenang, Cha”, kata Kak Andika memenangkan hatiku.

Aku mencoba untuk menjernihkan pikiranku. Aku hembuskan nafasku. Tiba-tiba, Kak Andin berlari menjauhi kami. Dia seolah melihat sesuatu yang tidak kami ketahui. Spontan, aku mengejarnya dan meninggalkan Kak Andika sendiri. Rasa takut itu hilang. Rasa cemas terhadap kakak sulungku itu membuat diriku menjadi wanita superwomen.

Kak Andin berhenti pada rumah keraton tersebut. Dia mengamati kesekelilingnya. Tiba-tiba, Aulil keluar dari rumah tersebut sembari membawa sebuah sepatu high heels dengan warna yang memudar. Wajah tanpa ekspresinya membuatku takut untuk mendekati dirinya.

“Aulil, ayo kemari, dek!”, perintah Kak Andin.

Aulil tidak mendekat. Dia masih terpaku di depan rumah tersebut. Perlahan, dia masuk kembali ke dalam rumah dan menghilang dari pandangan. Tuk… tuk… tuk… suara itu terdengar lagi. Sebuah suara ketukan antara keramik lantai dengan benda yang runcing. Aku binggung. Otakku berpikir. Lantai keramik?. Rumah keraton itu tidak berantai keramik. Benda yang runcing?. Aku tidak tahu benda apa itu.

“Kak, Kita harus mencari Aulil”, desakku.

Kak Andin mengangguk dengan sedikit keraguan. Aku dan dia merasa ketakutan untuk memasuki rumah tersebut. Namun, hal itu adalah tugas kami sebagai kakak. Aku tidak ingin terjadi apa-apa kepada Auli. Akhirnya, kami masuk ke dalam rumah tersebut walaupun begitu banyak resiko yang tidak terduga.

***

“Kemana mereka”, ucap Andika.

Andika mulai kelihatan gelisah. Malam sudah semakin larut  namun tiga saudaranya tidak di ketahui keberadaannya. Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri tegak. Sesosok wanita tanpa menjejak tanah mendekatinya. Tubuhnya menyebarkan bau busuk. Wajah dan bibirnya sangat pucat dan seputih kertas yang belum terukir tinta. Dari dua tangannya, sepasang sepatu high heels tergenggam erat. Rambut kusutnya mencerminkan sesosok yang tidak pernah terbayangkan olehku. Dia semakin dekat. Dekat. Dan dekat. Spontan, Andika berlari menjauhi wanita menyeramkan itu.

“Hantu”, teriaknya.

Andika bersusah payah menyelematkan diri dari hantu kuntilanak itu. Dia masuk ke dalam rumah keraton dan beristrirahat di sebuah ruangan kecil. Suara detak jantung bisa terdengar di setiap sisi ruangan. Hembusan nafasnya bisa terasa dari setiap detik menghirup oksigen.

Tuk… tuk… tuk… Andika tertegun. Suara itu membuat bulu kuduknya merinding. Otaknya mulai berpikir. Dia kembali teringat dengan peristiwa beberapa menit lalu. Sepatu high heels. Sepasang sepatu kusam yang di pegang wanita menyeramkan tanpa jejak kaki itu.

Andika celingak-celinguk mencari sesuatu yang tidak pasti itu. Dia mulai kebinggungan dengan keadaan yang tidak logis itu. Apalagi suhu dingin yang menyelimuti ruangan itu, membuat Andika semakin tidak mengerti dengan keadaan yang tidak pernah terbayangkan itu.

Tiba-tiba, Andika merasakan sebuah tangan yang mendekati lehernya. Aura tangan itu seperti sebuah mayat yang sudah lama terkubur. Bau. Dingin. Mengerikan. Bulu kuduk Andika semakin berdiri. Tegak lurus vertikal. Sekujur tubuhnya juga basah oleh keringat dan lemas. Dia benar-benar seperti menjadi sebuah boneka yang sedang di mainkan oleh tuan kecilnya.

Andika menoleh ke belakang tubuh dan mencari sosok itu. Namun dia tidak menemukan satu orangpun. Dan suara itu juga sudah menghilang dan mengheningkan suasana. Andika mencoba untuk menenangkan hatinya yang sudah gelisah dan resah. Hatinya memberanikan diri untuk keluar dari ruangan itu dan berniat kembali pulang ke rumah.

Mewujudkan niat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Suara ‘tuk… tuk… tuk…’ itu kembali terdengar dan mendirikan ketegangan yang mulai menghilang. Tiba-tiba, Andika merasakan kakinya seperti di tarik seseorang. Dia terjatuh. Tubuhnya mengenai lantai kayu yang mulai rapuh tersebut dan akhirnya dia PINGSAN.

***

Aku dan Kak Andin berjalan melewati lorong persegi panjang itu. Dingin. Bau busuk. Bahkan suara yang sering di dengar itu seolah menghantui setiap langkah. Aku dan dia hanya bisa berdoa kepada sang pencipta agar dapat terlindung dari bahaya.

“Kak”, panggil seseorang yang sudah tidak asing lagi.

“Aulil, apakah kamu baik-baik saja”, ucapkan khwatir.

“Kak, tolong Kak Andika”, ucapnya dengan mengebu-gebu.

“Maksud kamu apa, dik?”, kata Kak Andin.

Aulil tidak menjawab. Dia mengambi tangan kami dan mengajak  untuk mengikutinya. Dia membawa pada sebuah ruangan kecil. Banyak barang-barang yang tidak di gunakan berada memenuhi ruangan itu. Di salah satu sudut terdapat sebuah lemari dengan daun pintu yang terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah kertas kusam yang menarik perhatian. Aku mendekati lemari itu dan mengambil kertas tidak beraturan tersebut.

…alah cinta terlarang. Aku adalah sahabat suamimu. Aku telah mengkhianatinya dengan mencintai dirimu. Aku tidak bisa untuk meninggalkanmu walaupun aku harus menghianati sahabatku sendiri. Terimalah hadiah sepatu berhak tinggi ini. Aku harap kamu menyukai sepatu itu.

Aku tertegun. Surat itu mengingatkanku kepada surat tidak beraturan yang berada di kapsul waktu itu. Ada sebuah misteri yang membuat diriku ingin bergabung dalam dunia itu. Sebuah rasa keingintahuan yang sangat besar.

“Arghhh… “, teriak seseorang.

Aku, Kak Andin, dan Aulil terkejut. Suara itu adalah suara Kak Andika. Kami mencari sumber pada sekeliling ruangan. Namun kami tidak menemukan sosok laki-laki sulung itu.

Aku, Kak Andin, dan Aulil semakin khwatir. Kami selalu mencari sumber itu namun hasilnya sia-sia. Suara teriakkan Kak Andika semakin menjadi-jadi. Hatiku pilu. Aku tidak tahan mendengar suara teriakkan itu.

“Sepatu? Kita harus mencari sepatu”, kataku.

Tanpa berpikir panjang, kami mengubah tujuan itu. Sepatu itu adalah kunci untuk menyelamatkan Kak Andika. Pencarian itu ternyata tidak berbuah apa-apa. Tiba-tiba, Aulil menggenggam tanganku sembari menunjukku pada sebuah langit-langit rumah. Ada sedikit celah pada sebuah papan yang menutupinya. Dengan bersusah payah, Aku dan Kak Andin mencoba untuk menggapai langit-langit rumah tersebut. Sepatu itu berada di sana. Sepatu kusam yang di ceritakan pada kertas tersebut.

“Kita harus membakar”, ucapku sembari mencari korek api.

Inilah takdir. Wanita hantu itu harus kembali ke sisi sang pencipta. Aku membakar sepatu itu dan akhirnya suara teriakkan Kak Andika perlahan menghilang. Wanita itu telah pergi ke alam seharusnya berada.

Esok harinya, kami menemukan Kak Andika di langit-langit rumah itu dan tulang-belulang wanita. Keadaannya sungguh sangat memperhatikan. Aku tahu, ini adalah kesalahan Kakek buyutku yang telah membunuh wanita tersebut. Wanita itu menolak untuk menikah dan akhirnya menumbuhkan amarah besar untuk kakek buyutku. Sial bagi Kak Andika. Wajahnya sangat mirip dengan Kakek buyutku sehingga membuat wanita itu menuntun balas dendam. Dia ingin membunuh Kak Andika sebagai pelampiasan amarah yang terpendam puluhan tahun. Sekarang, wanita itu telah tenang berada di sisi sang pencipta. Mungkin dia juga sudah bertemu dengan keluarga tercinta yang di rindukan.

-Selesai-

By: Sri Siska Wirdaniyati-khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s