Tidak Ingin Sakit

“Anton, main yuk!”, panggil teman-temanku dari depan pagar rumah.

“Iya”, jawabku dengan semangat.

Aku segera berlari keluar rumah. Teman-temanku telah menunggu dengan setia. Hari ini, aku dan teman-teman berencana untuk bertandingan sepak bola dengan anak komplek sebelah. Kami ingin ikut memeriahkan World Cup yang membuat orang-orang histeris. Pakaian merah putih yang terpasang di tubuh menjadikan motivasi dan rasa cinta kepada Tanah Air.

Hasil pertandingan sangat memuaskan. Skor 2-1 untuk kemenangan tim kami. Bangga. Senang. Bersatu menjadi bola-bola kecil yang menenangkan hati. Perjuangan gigih untuk membanggakan bendera merah putih berkobar bagaikan api besar yang siap melahap rumah penduduk.

“Sore, Ma. Mama sedang membuat makanan apa?”, tanyaku kepada wanita yang telah melahirkanku. Sepiring kue bolu coklat terhidang di meja makan. Perut yang kelaparan tidak mampu untuk bertahan. Dengan lahap aku memakan kue bulu coklat yang paling lezat sedunia, kue buatan Mamaku.

“Nton, cuci tangan dulu”, kata Mama sembari menepis tanganku.

“Tidak perlu, Ma. Tangan Anton masih bersih kok”,

“Walaupun kelihatannya bersih, namun di telapak tangan itu banyak kuman dan telur cacing kremi”,

“Nanti saja ya, Ma. Anton sangat lapar”, ucapkan sembari melahap kue bolu tersebut tanpa menghiraukan nasihat Mama.

Hampir setiap hari, aku bermain bola di lapangan komplek. Ketika pulang, aku selalu makan makanan yang telah terhidang di atas meja tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Kuman-kuman penyakit dan telur-telur kremi mulai menjalankan serangan pada sistem pencernaan dan merusak alat-alat pencernaan. Malam itu, tiba-tiba perutku terasa sangat sakit seolah di tusuk oleh belati yang tajam. Aku meringis kesakitan. Mama kelihatan sangat khawatir dan membawa diriku ke klinik terdekat.

“Tidak ada apa-apa kok, hanya terdapat kuman-kuman kecil yang menghingapi lambungnya”, kata Dokter itu.

“Makanya, Nton. Kalau makan makanan itu harus cuci tangan terlebih dahulu agar kuman-kuman tidak masuk ke dalam tubuh dan merusak sistem pencernaan”, ucap Mama dengan nada jengkel.

“Iya, dengan mencuci tangan sebelum makan akan menghindarkan diri dari penyakit”, ucap dokter menambahkan nasihat Mama.

“Maafkan saya, Ma, dokter. Saya tidak akan pernah lagi makan sebelum mencuci tangan. Saya tidak ingin sakit”, kataku menyesal.

Aku terbaring di kasur dengan lesu. Nasihat Mama yang tidak di dengarkan, membuatku jatuh ke dalam lubang gelap. Sistem pencernaan yang dahulu baik, sekarang sedikit mengalami kerusakan. Dalam hati aku berjanji akan selalu mendengarkan nasihat Mama tercinta dan mencuci tangan sebelum makan. Aku tidak ingin nasi menjadi bubur dalam kehidupanku. Aku akan selalu menjaga sistem pencernaan tubuhku dengan baik.

– Selesai –

By. Sri Siska Wirdaniyati-khaipurple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s