Mantera Dari Kakek

Plak … aku melemparkan tasku ke lantai. Aku sangat kesal. Aku membaringkan tubuhku ke tempat tidur untuk menenangkan diri. Aku tidak suka menyanyi. Namun pelajaran seni budaya mengharuskan para siswa pandai dalam mengolah vokal dan bernyanyi.

“Dian, bapak tidak suka kalau kamu tidak serius”, ucap Pak Maryo masih melekatkan di benakku.

Serius. Aku selalu serius dalam proses belajar mengajar di sekolah. Bagiku, mendapatkan nilai bagus dalam pelajaran sekolah adalah hal terpenting. Aku ingin membahagiakan kedua orangtuanku agar mereka memberikan senyum indah di setiap kehidupanku. Namun, mata pelajaran seni budaya ini tidak mampu di taklukkan.

Kata teman-teman, suaraku sangat bagus. Namun, aku tidak suka menyanyi. Aku penah mengalami sebuah peristiwa memalukan sehingga sejak itu aku tidak berani untuk menyanyi di depan umum. Aku selalu mengelurakan keringat dingin bila aku telah berada di depan umum untuk menyanyi. walaupun begitu, aku tidak takut bila di suruh menjadi pembawa acara di depan umum. Bagiku, menjadi pembawa acara lebih mudah daripada menyanyi di depan umum.

Tok… tok.. tok… bunyi pintu  di ketuk. Dengan malas, aku melangkah menuju pintu dan membukanya. Seorang wanita berusia empatpuluh tahun berdiri dengan tersenyum. Dia adalah seorang wanita yang telah memberikan tenaganya untuk anak tercinta. Aku sangat menyayangi wanita yang di panggil ibu itu.

“Dian, ayo makan. Kakek dan ayah sudah menunggu untuk makan malam bersama”, ajaknya.

“Iya, Bu. Tapi Dian ganti baju dahulu”, ucapku sembari masuk ke dalam kamar.

Setelah mengganti pakaian, aku pergi menuju meja makan. Kakek, Ayah, dan Ibu telah berada di posisi masing-masing. Malam itu, kami makan hidangan dengan lahap. Kami tidak lupa untuk berdoa sebelum makan. Doa itu merupakan ucapan syukur kepada sang pencipta karena yang Maha Penyayang itu telah memberikan rezeki yang berlimpah dan kehidupan yang damai.

“Dian, kok lesu?”, kata Kakek.

Aku menggelengkan kepala. Aku tidak ingin makan malam ini menjadi suram karena permasalahan tentang menyanyi itu. Aku ingin menikmati makan malam tersebut dengan nyaman dan santai.

“Dian, bolehkan Kakek berbicara dengan kamu setelah makan malam ini selesai”, tanyanya.

“Boleh, Kek”, jawabku singkat.

Makan malam itu berlangsung dengan canda tawa. Sejenak, aku dapat melupakan peristiwa di sekolah. Setelah itu, Kakek mengajakku ke halaman belakang rumah. Kami duduk pada sebuah kursi yang memang di siapkan oleh ayah untuk menikmati rembulan dan bintang malam. Suasana malam itu sangat dingin. Badanku menggigil dan bulu romaku berdiri tegak. Sekali-kali, aku mendengarkan suara jangkrik yang beralun merdu. Jangkrik-jangkrik itu bernyanyi seolah mencerahkan malam yang berkabut.

“Ada apa kakek mengajak Dina ke sini?”, tanyaku.

“Dina, kehidupan ini adalah sebuah jalan. Kadang berliku kadangpula berlubang. Kita harus menapaki jalan tersebut dengan hati-hati agar tidak jatuh”, ucapnya sembari memandang rembulan.

Aku menundukkan kepalaku. Aku tidak mengerti dengan ucapan kakek yang sangat tinggi bahasanya. Namun, aku tahu satu hal. Kehidupan itu harus di jalani dengan kebahagiaanya agar senyum selalu merekah di bibir.

“Kakek tidak tahu apa permasalahan yang sedang di jalani oleh Dina. Tapi kakek akan memberikan sebuah mantera”, ucap Kakek.

Mulut kakek sedang berkomat-kamit membaca bacaan yang tidak aku mengerti. Mantera-mantera itu membuatku sedikit takut dan mendirikan berdiri romaku. Aku hanya terdiam tanpa pernah berani untuk beranjak dari tempat duduknya. Padahal aku sangat ketakutan. Kakekku terlihat seperti dukun kampung berpakaian serba hitam.

“Mantera yang kakek bacakan tadi adalah mantera agar kamu bisa menyelesaikan semua masalah yang sedang di hadapi”, kata Kakek.

Kepercayaan diriku seolah tumbuh dan meningkat menjadi 99 %. Aku seperti hidup kembali. Sosok baru telah menyelimuti diriku. Aku bisa melangkah dengan mantap. Otakku sudah siap untuk menginput dan mengoutput pikiran. Aku menjadi seorang gadis bernama Dina Dharmawinata yang berbeda dari biasanya.

***

Plok… plok.. plok… suara tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruang seni budaya. Aku menyanyikan sebuah melayu dengan cengkok yang khas. Pak Maryo mengeluarkan kata-kata pujian yang membuatku kaget. Teman-temanku mengucapkan selamat. Hari ini, aku menyanyi dengan sangat merdu. Aku bisa membuktikan bahwa aku mampu menyanyi di depan umum.

Mantera. Aku bisa menanyi karena mantera yang kakek berikan. Mantera ini menumbuhkan kepercayaan diri yang pernah redup. Cahaya telah datang menghampiri hati yang pernah kelam.

Aku ingin cepat pulang ke rumah. Aku ingin bertemu dengan kakek dan mengucapkan terima kasih atas mantera yang di berikan. Dengan mantera  itu, aku yakin aku bisa melakukan apa yang di inginkan. Au tidak perlu takut lagi menghadapi beribu orang. Aku tidak gugup dan mengeluarkan keringat dingin seperti dahulu.

“Ibu, Kakek pergi ke mana? Kok tidak ada di kamarnya?”, tanyaku saat tidak menemukan kakek di kamarnya.

“Kakek sedang pergi ke supermarket sekalian jalan-jalan”, ucap Ibu sembari sibuk dengan pekerjaannya.

Aku pergi ke kamar. Aku ingin menunggu kakek di kamar sembari membaca komik koleksiku. Sudah dua jam berlalu, kakek tidak juga pulang. Mataku mulai mengantuk. Perlahan-lahan, dunia mimpi menangkap dunia nyata. Aku terhanyut dalam tidur lelap. Aku tertidur dengan sangat nyenyak.

Satu jam aku tertidur. Aku telah menyegarkan pikiran dan tubuhku. Aku telah siap untuk menjalankan semmua aktifitas sehari-hari. Namun sebelum melakukan aktifitas, aku ingin bertemu dengan kakek dan mengucapkan terima kasih.

“Bu, kakek sudah pulang?”, tanyaku.

“Sudah, Kakek ada di taman belakang”, jawabnya.

Kakiku segera melangkah menuju taman itu. Malam ini tidak sedingin malam kemarin. Bulan bersinar lebih terang daripada biasanya. Bintang-bintang bertabur indah dan memberikan warna yang menyejukkan mata. Seorang laki-laki tua duduk di sebuah kursi kayu yang sudah berusia puluhan tahun. Laki-laki itu memandang langit sembari tersenyum.

“Kakek”, panggilku.

“Ada apa, Dina?”, tanyanya.

“Dina mau mengucapkan terima kasih. Berkat mantera kakek, Dina bisa melakukan apa yang Dina inginkan”, jelasku.

Kakek tersenyum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya menatap mataku dengan sangat tajam. Mata itu seolah menusuk tubuhku. Mengiris bahkan menyayat hati.

“Kamu salah, Dina. Kakek tidak pernah memberikanmu mantera atau sesuatu yang berbau seperti itu. Kakek hanya mendorong kepercayaan dirimu. Selama ini, kamulah yang telah mendirikan kepercayaan diri dan membuat keinginanmu tercapai”, ucapnya.

“Lalu, mengapa kakek berkoma-kamit”, kataku.

“Hahahahahahahahahaha, supaya terlihat kakek sedang membacakan mantera”, katanya sembari tertawa.

Aku tersenyum. Selama ini, aku telah di bohongilah oleh kakek. Namun itu bukanlah sebuah kesalahan. Dia berbohong demi kebaikanku yang selalu tidak percaya diri. Aku mengerti dengan ucapan kakek beberapa hari yang lalu. Kehidupan adalah sebuah jalan. Kadang berliku dan kadangpula berlubang. Untuk menjalani kehidupan tersebut, kepercayaan dirilah yang sangat di perlukan. Dengan kepercayaan, semua masalah dapat di selesaikan dengan tenang.

“Kakek, terima kasih. Aku mendapatkan pelajaran yang berharga”, ucapku sembari memeluk kakek dengan erat.

-Selesai-

By. Sri Siska Wirdaniyati-khai purple

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s